Masalah. Tujuan hidup seorang manusia adalah memecahkan masalah. Mencari solusi untuk tetap bertahan hidup, menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ada dari ketidakadaan. Membentuk kosakata baru, mengisi ruang hampa dan membentuk wujud nyata dari berbagai impian kosong di siang hari.
Dulu terbang bagi manusia adalah sebuah khayalan biasa, tertulis dalam syair-syair bagaimana lelaki ingin mencapai bintang. Tapi pada akhirnya, manusia dapat terbang, memanfaatkan fluida pada titik energi dalam aliran tertutup. Tidak puas sampai di sana, manusia terus berkembang. Memanfaatkan dua unsur kimia yang berbeda hingga terjadi perubahan momentum pada gas. Manusia meroket, meninggalkan bumi, membuka lembaran baru dalam peradaban yang akan terus berkembang entah sampai kapan.
Lalu tibalah pada satu permasalahan yang tidak pernah dapat dipecahkan. Mesin waktu, khayalan manusia tentang melompat ke lengkungan ruang-waktu yang keberadaannya merupakan sebuah teori fisika modern yang hingga kini belum pernah dimasuki oleh siapapun.
Masalahku saat ini adalah bahan. Aku harus menemukan bahan yang dapat menahan laju pergerakan hingga miliaran kilometer per jam. Mars. Planet oranye itu kini bisa kulihat dengan jelas, bahkan lebih jelas daripada bulan. Tidak perlu alat bantu, aku bisa melihat mars dengan mata telanjang di luar jendela. Benda itu berputar seperti papan nama rumah makan cepat saji. Jika sudah sedekat ini maka melakukan penelitian dan mencari batuan di mars tidak akan sulit.
“Fira? Kau sudah bersiap?”
Apa-apaan… tidak mungkin keheningan langit hampa udara di luar sana bisa masuk ke dalam ruanganku? Sampai Rena menerobos masuk saja aku tidak dengar.
“Ya, sudah.”
“Kalau begitu ayo. Tim Alpha sudah berkumpul.”
“Iya, oke…”
Catatan, lalu pena… jangan sampai ketinggalan. Aku masukkan semuanya dalam tas sandang. Berat. Belum lagi plat besi di dalam bajuku, oh… sungguh tidak nyaman. Dadaku tertekan.
Rena tengah menatap lorong, ke kiri dan kanan, was-was seperti anjing penjaga. Saat dia memberi tanda aman, barulah kami keluar dari kantorku yang nyaman. Selamat tinggal hari-hari penuh damai.
Pistol bertegangan listrik kugenggam erat. Ya, meski aku tidak yakin akan menarik pelatuknya. Selama dua puluh enam tahun aku menjalani hidup dengan belajar, bukan latihan militer. Aku adalah seorang ilmuwan, bukan tentara. Bahkan orang sejenius Albert Einstein tidak pernah mengotori tangannya secara langsung. Maknanya aku sudah berevolusi, teori evolusi benar terjadi bukan sejak zaman kera, tapi ketika manusia mampu melampaui hakikatnya sendiri dalam sebuah tatanan makhluk hidup.
Artinya aku dan Rena serta seluruh pasukan pemberontak adalah manusia v2.0 yang jika terus bertransformasi mungkin akan menjadi spesies baru. Spesies yang melebihi manusia luar angkasa yang akan lahir beberapa tahun ke depan: ada manusia mars, manusia jupiter, manusia bulan, manusia colony, ras kulit biru, ras kulit ungu, ras tanpa paru-paru, bahkan mungkin seorang krypton.
Kami tiba di tempat pertemuan. Totalnya ada enam orang termasuk aku. Semuanya membawa senjata, plat anti peluru, beberapa menyandang Jetpack.Wajah-wajah mereka begitu tegang sampai aku bisa melihat otot masseter yang menampakkan tonjolan.
“Oke, udah lengkap semua ‘kan Ren?”
“Udah.”
Lelaki berkepala plontos yang terlihat kasar di depan sana kemudian mengaktifkan alat komunikasinya, diikuti yang lain… Oh, sepertinya aku juga harus. Semut-semut segera berkumpul di dalam telingaku saat earphone menyala.
“Cek, This is Alpha team come in, over,” si botak memastikan. Tak masalah kupanggil botak 'kan? Namanya Amstrong, tapi entah kenapa rasanya malas untuk menyebutkan kata panjang tersebut. Disingkat rasanya juga sok asik, padahal kami tidak terlalu dekat. Amst? … Hi Amst … apa kabar Strong? … kan benar tidak enak. Si botak saja cukup.
“Alpha come in, Delta team over here, over,” balas suara yang sama beratnya terdengar di ujung earphone.
“Gamma team, your status? Over.”
“Gamma ready, scurity system all clear. You're free to move, over.” Kali ini seorang wanita dengan nada sopran. Aku yakin itu Shophiya, suaranya paling merdu kalau karaoke.
Karaoke… rasanya aku ingin kembali pada hari-hari itu. Hari penuh kesibukan membangun colony, bekerja seharian. Kalau ada waktu kosong dipakai makan bersama, karaoke, atau main tenis meja. Hari di mana aku dan yang lainnya masih berpikir bahwa kami melakukan hal yang mulia dengan membangun tempat hidup baru, harapan untuk generasi mendatang umat manusia. Menolong jutaan jiwa. Ya, bukan hanya dokter atau pemadam kebakaran. Bukan tentara dan polisi. Tapi pada akhirnya semuanya demi kepuasan masing-masing. Menyelamatkan jutaan jiwa, membunuh ratusan ribu lainnya… secara tidak langsung.
Kami adalah Albert Einstein v2, bukan manusia v2.
“Fira,” Rendi yang ada di sampingku menyodorkan helm full face. Tidak ada kaca, hanya kamera yang kemudian dilapisi kaca anti peluru. Jadi hanya ada celah “V” di depan helm. Kamera aktif ketika helm kupasang. Optik di dalam helm kemudian memancarkan cahaya hasil tangkapan kamera langsung ke mataku, jernih dan warnanya tajam.
“Alpha team headed for position. Over.” Si botak meju terlebih dahulu memberikan isyarat untuk mengikutinya.
Apa ini akan berhasil? Okelah si botak dan dua orang temannya yang aku tidak ingat namanya adalah tentara. Sementara aku dan Rena? Kami ilmuwan, tidak ada pengalaman perang. Ditambah Rendi yang seorang mekanik. Huuh, aku harus yakin, lagipula si botak sudah mengajarkan dasarnya. Paling tidak aku bisa mengenai satu atau dua orang.
Kami menelusuri lorong menuju lift yang ada di ujung ruangan. Tim Gamma bertugas mengamankan ruang keamanan yang mana mengawasi setiap sudut Colony 12. Tim Delta menuju Master Control Room sehingga nantinya Colony 12 benar-benar ada dibawah kendali kami. Sedangkan Tim Alpha (timku) bertugas mengamankan seluruh orang di lantai atas dan memasukkan mereka ke dalam satu ruangan. Jadi sandera singkatnya. Lantai atas berisi orang pemerintahan serta sebuah laboratorium utama, mereka adalah orang-orang VIP yang mengontrol Colony 12, sebagian mereka berada di pihak yang berseberangan, musuh.
Kami tiba di dalam lift tanpa halangan. Setelah lift bergerak naik, si botak dan dua rekannya yang berdiri paling depan segera mengambil ancang-ancang dengan senjata listrik mereka. Hanya mereka bertiga yang membawa dua tipe senjata: senapan listrik dan senjata api. Kata si botak itu persiapan kalau-kalau harus berhadapan dengan petugas atau tentara yang melawan dan menembaki kami.
Jadi yang dia maksud adalah jika lawan balas menembak artinya mati. Sungguh, pria barbar. Padahal disetrum juga bakal pingsan, kita hanya perlu mengikat dan menyita senjata mereka.
Daerah pertama adalah lobi. Tim Gamma bilang lobi aman, hanya ada beberapa karyawan yang sedang santai. Jadi kami tinggal menembaki mereka seperti hewan ternak.
Pintu lift terbuka. Satu tembakan diluncurkan. Dua, tiga, empat. Orang-orang di lobi tidak punya waktu untuk lari, mereka kagok dan kemudian mulai berteriak saat satu persatu tumbang.
“Clear!” teriak Rendi.
Ruang berikutnya adalah laboratorium dan kantor presiden terpilih. Kami berpencar, si botak dan tiga temannya menerobos ruang kepresidenan sementara sisanya ke laboratorium.
Rena membuka pintu dengan menggesek IDcard-nya. Rendi masuk dan mulai menembak orang pertama yang paling dekat dengan pintu masuk.
Tak kusangka akan tiba hari di mana aku meneror ruang kerja sendiri.
“What the hell happening here?!” lelaki separuh baya dengan jas putih labnya tampak kesal dan berteriak menanyai kami. Sebenarnya yang harus Anda lakukan di saat seperti ini adalah bersembunyi pak Edward, bukan malah mendekati masalah. Aku melepaskan tembakan pertama, peluru mengenai perut buncit Edward. Wajah buruk rupanya yang sedang marah berubah seperti orang ayan saat listrik menjalar di tubuhnya. Ia kemudian tumbang.
Entah kenapa lega rasanya melakukan hal seperti ini kepada Edward. Sudah lama aku ingin menghajarnya, ya kau tau, aku adalah pimpinan leb… sementara Edward adalah kepala divisi penanggulangan virus. Dan dia adalah satu-satunya orang yang bertindak seenak jidat, selalu meneriakiku padahal aku atasan, bahkan dia selalu berbicara dengan nada ketus kepadaku seperti musuh bebuyutan. Yang terakhir beroperasi secara diam-diam, saat ketahuan dengan mantap dia menegakkan perisai andalannya, “ini perintah petinggi Colony.”
Rasakan sekarang, Edward. Anggap ini SP dari atasan.
“Amstrong! Presiden mengaktifkan objek, hentikan dia cepat!” Shophiya terdengar gusar.
“T Projects ready, launch in three,” suara sistem menggema di dalam laboratorium.
Ini! Mereka sudah selesai dengan virusnya? Sajak kapan?! Kenapa aku tidak sadar! Bajingan, BAJINGAN! “MATIKAN, CEPAT MATIKAN!” teriakku hingga tandas. Edward SIALAN!Dia mempercepat pembuatan virusnya!
Rena dan Rendi segera terpingkal menuju ruang presiden di susul olehku yang sempat terjatuh karena tersandung tubuh seseorang.
“Two.”
Tidak, tidak boleh! Kumohon, siapa saja hentikan! Ke mana si botak? Seharusnya dia ada di sana ‘kan? Arghhhh!Kami tiba di ruang kepresidenan, dan segera menerobos ke ruang menteri.
“One. T project successful launch. Destination : Earth.”
Kami berenam terdiam. Amstrong ada di ujung, tertunduk di depan cahaya proyeksi yang memancarkan sinar hijau. Rena berbalik, menatapku dengan lesu, kantung matanya yang mulai menghitam membuat penampilannya semakin letih. “Fira?” ucapnya lirih dan bergetar.
Bagaimana ini… apa… apa yang harus aku lakukan… Tuhan, ya Tuhan. Allah, aku mohon kepadamu, kumohon lindungi mereka yang di bumi. Jika Engkau memang adalah yang maha kuasa, kumohon kepada-Mu….
Lututku lemas, pertukaran gas yang terjadi pada alveolus berlangsung begitu gencar, kencang hingga aku bisa mendengar sendiri tambur gendang di dalam dadaku. Dan setelah bertahun-tahun, akhirnya aku kembali menangis, menangis tanpa suara yang rasanya begitu menyakitkan.
Rey… maafkan aku… maafkan aku, Rey… Rey…. Rey…….
Aku memohon maaf padamu.
Komentar
Posting Komentar