Daftar Light Novel

  Nol Persen Noir ----------------------------------------------------------------------------- Update   Kamis Noir Sabtu Nol Persen (Ongoing)

Nol Persen

 Prolog



Nenek adalah seorang ilmuwan, waktunya selalu habis di dalam laboratorium pribadinya. Tak terkecuali tanggal merah, setiap hari libur nenek akan membuka klinik untuk para android pekerja karena saat itu para mesin hanya sekedar alat yang kalau sudah rusak ya dibuang. Jadi para android yang mengalami kerusakan saat bekerja bisa datang pada hari libur, paling tidak memperpanjang waktu hidup lebih berguna daripada mati begitu saja.

Pekerjaan sukarelawan nenek perlahan menjadi besar, seiring dengan masa pensiunnya yang semakin dekat, ia kemudian lebih banyak menghabiskan waktu di klinik. Nenek mulai memiliki klien tetap: dari perusahaan pembangunan, kepolisian, dan juga android-android yang hidup di jalanan. Jadi tangannya tetap bisa bergerak, otaknya masih bisa tetap bekerja, masa tuanya jadi tidak membosankan sebagaimana yang nenek takutkan (dia sering cerita padaku).

Aku tumbuh dengan melihat kesibukan nenek. Ayah dan ibu adalah pegawai pemerintah, jam terbang mereka banyak. Ayah adalah seorang komisaris, sementara ibu merupakan seorang jaksa. Jadi hari-hari sepulang sekolah kuhabiskan membaca sambil menemani nenek. Dia punya banyak sekali buku, mulai dari ilmu fisika yang rumit hingga cerita-cerita fiksi klasik.

Saat nenek meninggal aku mendapatkan semua buku tersebut. Nenek meninggal karena penyakit jantung di umur delapan puluh lima tahun. Dia dicintai banyak orang, bisa dilihat dari rombongan pelayat; baik manusia dan android datang pada hari pemakaman.

Sebelum meninggal nenek berpesan agar hasil ekstrak dari otaknya tidak hanya disimpan sia-sia, dia berharap dapat menjadi aset pembelajaran bagi generasi mendatang. Singkat cerita kejeniusan nenek diekstrak dan digandakan, kemudian menjadi bahan pembelajaran di sekolah-sekolah serta universitas. Sementara ingatan tentang kehidupan pribadi dipisah dan diserahkan pada keluarga.

Tapi, ada satu hal yang hanya ia berikan padaku. Sebuah nasihat terakhir, dalam detik-detik terakhirnya di mana saat itu ia hanya ingin bersamaku. Dia memintaku untuk mencatat apa yang akan ia katakan.

Jadi kira-kira ia berkata seperti ini, “takdir adalah ketentuan hidup yang telah ditetapkan saat suatu makhluk lahir ke dunia. Tapi semua orang percaya bahwa takdir bisa diubah dengan kerja keras. Mereka yang berkata demikian tidak salah dan tidak pula benar, mereka hanya berbicara melalui pengalaman. Dan apa yang nenek alami membawa pada suatu kesimpulan akhir; takdir bisa diubah, tapi juga tidak. Pada akhirnya tetap ada ketentuan yang tidak dapat diganggu-gugat, kejadian yang tak bisa terelakkan.

“Intinya adalah, saat kau sudah bekerja keras, melakukan segalanya sebisamu hingga batas akhir kemampuan yang kaupunya, namun tetap segala hal tak berjalan sesuai dengan harapan, maka percayalah bukan usahamu yang salah. Tapi itu adalah takdirmu. Mungkin selama ini kau berada di tempat yang salah, mungkin selama ini kau melakukan sesuatu yang memang berada di luar jangkauan, dan mungkin memang sudah saatnya kau berhenti. Yang perlu kita lakukan adalah menghadapinya, sama halnya denganku saat ini yang akan menghadapi kematian.”

Sekarang, setelah tujuh tahun aku kembali membaca catatan tersebut; nasihat nenek yang tertulis di halaman akhir catatanku, sambil minum kopi pahit, sepahit takdir yang harus kuhadapi. Coba tebak kenapa? Karena pagi ini istriku minta cerai, begitu tiba-tiba padahal aku yakin kami baik-baik saja. Kami pergi dinner tadi malam, kemudian pulang, lalu tidur nyenyak……….

“Ah, kurasa memang ada yang salah.”

“Apa yang salah?”

Lelaki yang duduk di sampingku adalah Jhonatan. Kami berteman sejak kuliah dan entah sejak kapan selalu melakukan kegiatan bersama, misalnya satu divisi di kepolisian. Orang-orang bilang kami seperti combo yang tak terpisahkan.

“Eli minta cerai.”

“Hah?! Apa, cerai!” Jhonatan kalau sudah bicara seperti sedang memakai pengeras suara. Lihat, seluruh orang di kantin jadi memperhatikan.

“Pelan dikit bisa nggak?”

“Kok bisa?” Jhonatan kini bergumam dengan logat British-nya, bertanya dengan antusias.

“Nggak tau, aku juga bingung. Padahal kurasa kami baik-baik aja.”

Jhonatan meneguk minuman bersodanya sampai habis. Kemudian menatapku tajam dan bertanya, “kapan terakhir kalian main di ranjang.”

“Satu bulan yang lalu. Memangnya ada relasi antara hubungan intim gitu?”

“Ckckck, umur saja yang tua. Tentu ada.”

“Tapi kami udah tua. Dua puluh tujuh tahun, punya kesibukan masing-masing, tiap pulang bawaannya ya tidur, susah buat cari waktu.”

“Dua puluh tujuh itu masih muda bodoh. Bahkan bisa nambah istri, otakmu di mana.”

“Oh, iya? Biar aku tanya balik. Kau sendiri kapan terakhir kali berhubungan intim sama Ganesa?”

“Tadi malam. Seminggu tiga kali.” Jhonatan bangga dengan jawabannya.

Kawan bangsat. Bukannya pada waktu seperti ini harusnya aku dihibur? Kenapa malah membandingkan siapa yang lebih unggul.

“Terserah.”

“Eli ada bilang kenapa dia mau cerai?”

“Ada. Dia bilang udah nggak ada perasaan lagi. Kami juga belum punya anak jadi nggak ada alasan buat mempertahankan pernikahan. Dia. Bilang ‘ini yang terbaik’.” Sampai sekarang dadaku masih sakit jika mengingat perkataannya. Hari ini juga rasanya ingin sekali tidak melakukan apapun. Aku juga tidak ingin pulang ke rumah.

“Jhon, hari ini kau lembur 'kan?”

“I-iya.” Jhonatan kelihatan bingung, mungkin setelah mendengar alasan bodoh Eli dia juga tak tahu harus berkata apa. Yah, lebih baik diam, tak perlu beri aku nasehat, aku cuma ingin ketenangan.

“Biar aku ambil. Kau pulang saja.”

“Hah? Tidak, tidak. Sebaiknya kau pulang, lalu bertemu dengan Eli dan bicarakan lagi masalah kalian.”

“Tidak ada yang perlu dibicarakan. Aku hanya butuh waktu sendiri, bisakan?”

Jhonatan mendengus dan menggaruk dahinya. “Ya sudah. Tapi nanti aku minta Andrea buat bantu-bantu.”

Andrea adalah android yang bertugas satu divisi dengan kami berdua. Dia bukan manusia, jadi kurasa bukan masalah menghabiskan malam dengan tumbukan mesin. “Sip, makasih.”

Kegiatan lembur Jhonatan adalah mendata PM (person memory) yang sudah lebih dari seratus tahun, jadi nanti akan dipisah dan dibumihanguskan. PM yang tersimpan di kantorku adalah terkait dengan kasus-kasus yang dilimpahkan kemari, atau ungsian dari pusat. Berdasarkan hukum, kasus yang sudah lebih dari seratus tahun berarti hangus. Tidak peduli apa alasannya tak boleh diangkat kembali.

“Tuan, ini kopi yang anda pesan.” Andrea menyajikan kopi dengan nampan.

“Kau tidak minum juga?”

“Tidak. Bahan bakarku baru terisi tadi sore.”

Andrea kembali ke meja kerjanya, memilah PM sesuai tugas yang diberikan.

Jujur saja, bekerja di sini cukup mengesalkan. Teknologi yang kami punya jauh tertinggal dengan kantor polisi di kota-kota. Contoh kecilnya seperti: di sini kami hanya punya lima unit android yang mana Andrea adalah salah satunya. Kemudian juga, ini! Memilah berkas-berkas juga seharusnya mesin yang mengerjakan, kalau di pusat tinggal pencet sana pencet sini dan hwala! Selesai.

Dibanding ayah aku sama sekali tidak sebanding. Anaknya seperti orang buangan begini.

Oh?! PM yang ini usianya sudah sangat lama. Di sana tertulis tahun 2397, sudah dua ratus tahun yang lalu, sebelum…. Perang dunia ketiga. Kenapa PM setua ini bisa nyasar kemari. Penasaran, aku tekan tombol merah di sisi pojok benda berbentuk persegi panjang itu. Cahaya terpancar, menampilkan data si pemilik PM.

Di sana tertulis bahwa benda ini milik Rey Septian, usia dua puluh lima tahun, jenis kelamin tentu laki-laki, kewarganegaraan Indonesia. Indonesia?

“Andrea, Indonesia itu dulu letaknya di daerah yang namanya asia bukan?”

“Iya, tuan. Asia Tenggara. Kenapa bertanya?”

“Ah, penasaran doang.”

Kalau tidak salah nenek bilang buyutku adalah orang asia. Jadi penasaran bagaimana penampakan bumi asia, apa harus kusimpan? Tidak ada yang tahu juga kan? Aku hanya akan mengintip sedikit isinya. Sip, selesaikan kerjaan gila ini dulu baru kita intip memorinya.

Pekerjaanku akhirnya selesai tiga jam kemudian. Sekarang sudah jam setengah empat pagi, kantor buka jam enam. Sempurna, aku bisa membaca memori Rey sekaligus istirahat.

Sebelum itu, renggangkan dulu tubuh. Huaah! Pegel banget, untung ada sofa di samping dapur, tidak terbayang olehku kalau harus tidur di meja kerja.

Udara mulai dingin, sangking dinginnya kakiku mulai nyeri karena masuk angin mungkin. Rasanya begitu menusuk. Badanku juga rasanya sudah lengket. Aku minta Jhonatan untuk membawakan pakaiannya, jadi nanti tinggal mandi di kantor dan tidak perlu pulang ke rumah.

Sebelum merebahkan badan di atas sofa, aku menggeledah laci meja kerjaku terlebih dahulu. Mencari memory reader yang berwujud seperti kalung leher. Kalau tidak salah ada di deretan ketiga laci…… nah dapat. Berikutnya tinggal menghubungkan kabel USB ke tempat penyimpanan memori tadi. Daya memory reader sudah terisi penuh, jadi bisa tahan kurang lebih enam jam. Sisanya tinggal mengalungkan memory reader dan menghubungkannya pada lubang injeksi di leher. Semua orang yang diterima sebagai pegawai pemerintah akan mendapatkan operasi pemasangan lubang injeksi ini di leher mereka. Karena banyak sekali alat yang cara memakainya mirip memory reader. Jika diingat-ingat itu adalah proses paling menakutkan selain tes fisik.

Setelah terhubung, data langsung dikirimkan ke otak dan yang harus kulakukan sekarang adalah memejamkan mata dan masuk ke dalam ingatan Rey Septian.

Aku minta maaf Rey, ini kurang sopan tapi aku ingin tahu. Ingin melihat secara langsung bumi bukan hanya dari berita atau potret lukisan.

Komentar

  1. Balasan
    1. Yeah, but you only read until bab 1
      I'll upload to bab 7 every Saturday ^^

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini