Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2019

Nol Persen Bab 2 File 1

Masa muda yang penuh dengan semangat, jiwa-jiwa membara berlarian ke sana kemari mencari cinta. Masa depan urusan nanti, yang penting bisa menemukan tempat sandaran, menemukan orang yang bisa berbagi senang dan juga pilu. Seseorang yang akan menemani malam juga membangunkan subuh. Memberikan rasa hangat dengan pelukan dan belaian. Karir akan biak-baik saja, mulai semuanya dari nol. Kredit rumah, bayar tagihan bersama, kemudian rencanakan perabotan-perabotan yang akan mengisi ruang-ruang kosong. Aku selalu memikirkan hal indah seperti itu, tanpa memperhitungkan skenario terburuknya. Menyesal, apa aku menyesal? Karena meminta cerai pagi ini? Harusnya tidak. Aku sudah pikir semuanya matang-matang, berbulan-bulan, mungkin sudah beberapa tahun terakhir. Tidak ada alasan kuat untuk tetap melanjutkan hubungan kami, aku bahkan sudah tidak tahu lagi apa masih mencintai dia atau tidak. Mungkin dia akan berpikir bahwa aku selingkuh? Apa harus kujelaskan? Tidak, rasanya tidak perlu. ...

Nol Persen

File 4 Ternyata Mai cukup ringan. Kira-kira berapa ya beratnya? 45? Atau lebih? Bisa juga kurang. Tapi dia benar-benar seperti kapas. Seharusnya saat membopong orang yang tidak sadarkan diri akan lebih berat daripada saat dia sadar. Aku penasaran, apa Sharina juga seringan ini. Mungkin tidak beda jauh? Karena dia selalu menjaga pola makanan dan rajin berolahraga. Olahraga kah, oh… aku selalu ingin melakukan sit up juga push up setiap enam menit dalam sehari. Tapi sampai tadi pagi barang sedetikpun tak pernah kulakukan. Aku telah berjalan cukup jauh. Tidak ada arah tujuan yang pasti—ada sih, aku mau ke hotel bandara—karena aku juga tidak tahu apa ini jalan yang benar atau bukan. Begitu sepi dan sunyi. Persis seperti kota mati. Jika situasi sudah seperti ini… sepertinya mustahil untuk melakukan olahraga enam menit setiap pagi. Selagi kakiku melangkah, pikiranku melayang-layang, mencari bahan untuk dibicarakan pada diri sendiri. Dan kemudian aku sadar tubuh ini sudah bau ...

Nol Persen

File 3 Paman berhenti membaca koran. Berpindah tempat duduk di sampingku yang sedang asik memperhatikan benda oranye di atas langit yang besarnya hampir sama dengan bola golf. Paman mengusap punggungku sembari tersenyum. Memperlihatkan kerutan di mata dan pipinya. Tanpa berkata apapun ia ikut memandang langit, begitu pula denganku. “Katanya tadi ada orang tua temen yang meninggal ya di sekolah?” Paman membuka pembicaraan sambil menggenggam erat pundakku dengan telapak tangannya yang lebar. Otot-otot jemarinya masih kuat, sampai bahuku sedikit nyeri karena diremasnya. “Iya. Ibunya, Hadi. Kena kanker kalau nggak salah.” “Kanker apa?” Oh, jadi kanker banyak jenisnya ya? Aku tidak tahu. “Entah. Taunya kanker doang.” Paman mengangguk dan mencibir sambil berkata, “ohhh. Ya ya.” Kemudian kami hening lagi beberapa saat. “Jadi kawanmu gimana? Perasaannya.” “Tadi sih baik-baik aja. Nggak nangis, cuma matanya merah.” Kurasa dia menangis lama sekali. Tapi kenapa ketika kam...

Postingan populer dari blog ini

Nol Persen