Daftar Light Novel

  Nol Persen Noir ----------------------------------------------------------------------------- Update   Kamis Noir Sabtu Nol Persen (Ongoing)

Nol Persen Bab 2 File 1


Masa muda yang penuh dengan semangat, jiwa-jiwa membara berlarian ke sana kemari mencari cinta. Masa depan urusan nanti, yang penting bisa menemukan tempat sandaran, menemukan orang yang bisa berbagi senang dan juga pilu. Seseorang yang akan menemani malam juga membangunkan subuh. Memberikan rasa hangat dengan pelukan dan belaian. Karir akan biak-baik saja, mulai semuanya dari nol. Kredit rumah, bayar tagihan bersama, kemudian rencanakan perabotan-perabotan yang akan mengisi ruang-ruang kosong. Aku selalu memikirkan hal indah seperti itu, tanpa memperhitungkan skenario terburuknya.

Menyesal, apa aku menyesal? Karena meminta cerai pagi ini? Harusnya tidak. Aku sudah pikir semuanya matang-matang, berbulan-bulan, mungkin sudah beberapa tahun terakhir. Tidak ada alasan kuat untuk tetap melanjutkan hubungan kami, aku bahkan sudah tidak tahu lagi apa masih mencintai dia atau tidak.

Mungkin dia akan berpikir bahwa aku selingkuh? Apa harus kujelaskan? Tidak, rasanya tidak perlu. Kenapa harus? Aku tidak merasa bersalah, ini yang terbaik. Tidak ada kehangatan di antara kami. Dia dengan hidupnya sendiri dan aku dengan duniaku sendiri.

Setiap makan malam yang ada hanya keheningan, tak ada hal istimewa untuk dibicarakan. Kami sudah kenal cukup lama, sudah tidak ada rahasia yang perlu diketahui. Bidang kerja kami juga berbeda, tidak ada yang bisa diskusikan. Meja makan adalah tempat paling dingin, rasanya tidak nyaman berada lama-lama di sana.

Ya tuhan, kini diriku sedang runtuh. Meski keputusanku sudah bulat, tapi entah kenapa rasanya begitu berat. Hatiku seperti halnya black hole yang menyusut dan siap meledak beribu-ribu kali lebih besar daripada nuklir.

Jika cinta memiliki wujud, jika cinta memiliki parameter yang jelas, jika cinta dapat berbicara, aku ingin berdiskusi dengan cinta, aku ingin membedah cinta, aku ingin mengukur apakan kadar cintaku padanya masih ada.

Aku takut, juka harus berpisah dengannya. Tapi aku juga tak ingin atmosfer yang menyesakkan ini terus berlanjut.

Aku haus akan rasa cinta yang sudah lama hilang. Dan sudah cukup aku mencoba kuat selama ini, mencoba untuk tetap yakin bahwa kami baik-baik saja.

Ya, ini yang terbaik.

Tapi di mana dia? Ini sudah jam sepuluh malam. Apa ada kasus mendadak? Padahal ini adalah makan malam terakhir kita, kenapa kau tidak pulang, Han.

Apa harus kutelpon? Tapi rasanya kurang sopan, mungkin dia sedang bersama Jhonatan… menceritakan seluruh keluh kesahnya. Kurasa dia masih syok.

Sebaiknya aku tanya langsung pada Jhon. Aku tak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada Han.

Pesan terkirim, menanyakan apakah Jhon sekarang sedang bersama Han. Selagi menunggu jawaban rasanya tidak masalah jika aku mengemasi makanan dan menyimpannya agar tetap hangat. Nanti kalau dia pulang tinggal kuambil lagi.

Setelah meja makan kembali rapi, aku berniat untuk mengisi waktu dengan membaca buku, akan tetapi seseorang menekan bel rumah.

Dari layar kamera yang terlihat adalah android kurir. Tampilan para android berbeda setiap bidang. Ada yang mirip manusia, hewan, dan banyak lagi yang tidak bisa kujelaskan satu per satu. Yang satu ini mirip manusia, tapi tidak berkulit, hanya tumpukan besi hitam. Matanya lonjong besar memancarkan cahaya kuning, juga tidak punya mulut, hanya pengeras suara berongga di atas dagu petak.

Aku membuka pintu, si kurir kemudian bertanya dengan suara lelaki dewasa, “dengan Putri Elidya Permatasari?”

“Iya benar.” Senang mendengar ada orang asing yang bisa mengeja namaku dengan baik. Kadang ada yang membaca Eliya, Elida, terparah kemarin Lidya.

“Ini paket untuk anda.” Si kurir menyodorkan sebuah paket yang terbungkus karton cokelat, lebarnya sebesar buku tulis anak sekolahan. Aku sedikit menyentuh tangan mekaniknya saat menerima paket, dan… begitu dingin. “Silakan konfirmasi di sini.” Ia menyodorkan alat pemindai sidik jari. Click, bunyinya ketika selesai memindai. “Terimakasih, semoga hari anda menyenangkan.”

Ya, kamu juga.

Aku cepat-cepat ngibrit ke depan TV, duduk di sofa dan merobek bungkusan. Kemasannya sangat rapi, sampai aku susah membukanya. Aku bertanya-tanya siapa yang mengirim? Di sini tertera “bengkel android Nova”. Ditulis dalam bahasa, artinya pengirimannya bukan berasal dari colony di planet lain. Aku juga kenal alamat tersebut; rumah reparasi android milik nenek Han. Tapi sudah tutup dua bulan sebelum neneknya Han meninggal.

Rasa takut dan penasaran bercampur aduk. Sesuatu di dalamnya pastilah sangat penting. Dan paket ini tertuju untukku, bukan Han cucunya.

Setelah bungkusan berhasil kurobek bersih, kini hanya tersisa kotak pipih. Kubuka tutupnya. Ternyata berisi sepucuk surat, dan di bawah surat ada tiga skat masing-masing berisi satu PM.

Aku mengenal nenek Han sejak SMA. Seorang wanita yang pribadinya penuh misteri, tapi juga tokoh inspiratif karena bagiku ia merupakan simbol wanita tangguh. Dia adalah dokternya para mesin. Seorang single parent dengan anak semata wayangnya; ibu mertuaku. Ilmuwan yang pasti sudah menyandang gelar doktor. Bahkan kematiannya mendatangkan berbagai kalangan dari yang kaya sampai miskin, dari manusia hingga android. Pakar ilmiah terkemuka yang telah menemukan penawar bagi penyakit apapun di masanya.

Aku mengenal neneknya Han sebagai orang yang kalem. Tidak banyak bicara, penyendiri, kadang ia memancarkan wajah penuh pilu sembari memandang ke luar jendela. Melihat jauh ke atas langit. Kalau sudah begitu, bahkan Han yang cucu kesayangannya enggan untuk mengganggu.

Dibalik betapa hebatnya dia, dengan jutaan umat yang mencintai sosoknya, aku bisa merasakan kesedihan yang begitu mendalam pada darinya. Namun, aku tidak tahu apa. Di mataku dia adalah wanita yang begitu kesepian, meski dikelilingi orang banyak. Hatinya tidak pernah benar-benar ada di tempat ia berdiri, seperti melayang jauh berjuta-juta cahaya. Kegelisahan yang kadang kurasakan juga pada sosok Han.

Terkadang Han gemar menyendiri ketika pulang kerja. Menonton acara komedi tanpa ada tawa. Terkadang pandangannya kosong tiada sebab. Semakin lama bahunya yang kekar semakin membungkuk sejalan dengan banyaknya helaan napas yang berat dan terlihat begitu menyelekit. Tetapi dia selalu tersenyum ketika melihatku, senyum yang sama perih dengan saat-saat sendirinya.

Aku awalnya selalu bertanya “apa ada masalah?” ... “kamu baik-baik aja 'kan? ... “cerita dong kalau ada masalah, aku kan istrimu”... Tapi Han hanya membalas dengan senyumnya. Sebuah senyum yang mengantarkanku pada keputusan untuk berpisah.

Seperti yang kukatakan, tidak ada alasan untuk tetap bertahan. Tidak ada lagi kehangatan di antara kami. Dan aku adalah seorang istri yang tidak berguna, hanya bisa memberikan pelukan kosong setiap Han berada dalam ruang hampanya.

Aku menyalakan PM dari skat paling kiri, data diri yang punya keluar. Ternyata ini bukan milik nenek Han, tapi seorang wanita bernama Fira Permatasari. Namanya sama denganku! Permatasari agaknya sedikit pasaran. Lahir di Jakarta, Mei 2371 dan wafat pada C.C 31. Warga negara Indonesia? Dia generasi awal berdirinya colony? Inikan masa-masa perang dunia ketiga.

Sepertinya PM ini akan kubuka nanti. Surat bukan tanpa maksud diletak paling atas. Aku membuka lipatan surat yang masih ditulis dengan tangan itu perlahan.

Terutuk Putri Elidya Permatasari.

Di masa depan.

Hai gadis manis, apa kabarmu? Kuharap kau tetap cantik dan ceria seperti biasa. Surat ini kutulis menjelang pernikahan kalian, oh! Aku bersyukur kau mau menikah dengan Han yang selengean. Kau adalah gadis yang baik dan penuh perhatian, bisa kulihat dari caramu menatapku. Hahaha, bukan aku tak tahu kalau kau selalu memperhatikanku, mencuri-curi pandang dengan segudang tanda tanya, ya aku tahu betul meski kita jarang ngobrol.

Karena itu aku ingin kau mengenalku lebih baik, ingin berbagi ingatan susah dan senangku. Karena itu kuingin kau untuk mengintip satu per satu PM yang kukirim bersama surat ini. Saksikan berurutan dari kiri ke kanan, agak sedikit mengambil waktumu, tapi kuharap kau sudi untuk melakukannya ^_^

Peluk sayang,

Mai Hyana.

Memang seperti dia, wanita penuh misteri. Bahkan dalam sebuah paket yang telah ia siapkan agaknya sudah cukup lama, aku tidak bisa menerima informasi begitu saja. Selalu ada cara, selalu ada trik yang neneknya Han gunakan. Kira-kira apa yang mau ia sampaikan? Kenapa menunggu begitu lama?

Aku kembali menyalakan PM milik wanita dengan nama belakang yang sama denganku, Fira Permatasari. Apa hubungannya dengan nenek Han? Kenapa dimulai dari dirinya? Terlepas dari apa dan kenapa, aku begitu penasaran dengan siapa nenek Han sebenarnya, aku ingin mengenal beliau lebih dalam bukan hanya personanya saja.

Maka dari itu keputusan untuk memasuki kenangan wanita bernama Fira ini. Sembari menunggu Han pulang. Jhonatan juga belum membalas pesan, hmmmmmm….



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nol Persen