File 3
Paman berhenti membaca koran. Berpindah tempat duduk di sampingku yang sedang asik memperhatikan benda oranye di atas langit yang besarnya hampir sama dengan bola golf. Paman mengusap punggungku sembari tersenyum. Memperlihatkan kerutan di mata dan pipinya. Tanpa berkata apapun ia ikut memandang langit, begitu pula denganku.
“Katanya tadi ada orang tua temen yang meninggal ya di sekolah?” Paman membuka pembicaraan sambil menggenggam erat pundakku dengan telapak tangannya yang lebar. Otot-otot jemarinya masih kuat, sampai bahuku sedikit nyeri karena diremasnya.
“Iya. Ibunya, Hadi. Kena kanker kalau nggak salah.”
“Kanker apa?”
Oh, jadi kanker banyak jenisnya ya? Aku tidak tahu. “Entah. Taunya kanker doang.”
Paman mengangguk dan mencibir sambil berkata, “ohhh. Ya ya.”
Kemudian kami hening lagi beberapa saat.
“Jadi kawanmu gimana? Perasaannya.”
“Tadi sih baik-baik aja. Nggak nangis, cuma matanya merah.” Kurasa dia menangis lama sekali. Tapi kenapa ketika kami datang dia senang? Seharusnya dia menangis. Kalau aku .… pasti tidak bisa membayangkan harus kehilangan paman seperti itu. Aku pasti nangis seharian. Tidak! Aku nggak bakal berhenti nangis.
Apa karena bulan?
“Paman.”
“Iya?”
“Kata, Hadi. Dia nggak sedih karena bisa liat bulan. Katanya ibunya juga liat bulan yang sama jadi dengan begitu mereka tetap terhubung. Emangnya bener ya?”
Paman tertawa kecil. “Oh ya? Kata siapa?”
“Ayahnya. Hadi yang cerita pada kami.”
Paman kembali tertawa. “Oh… hmmm. Menurut, Rey gimana?”
Menurutku? Entah. Aku menggelengkan kepala.
“Hmmm. Kalau kata paman nih ya. Eee, ayah temenmu itu bohong.”
“Bohong, masa sih?”
“Iya. Karena Seharusnya kita memikirkan mereka selalu di sini,” ucapnya sembari menunjuk dada kiriku dengan jarinya. “Kalau hanya dengan melihat bulan, tandanya kita tidak menanti apalagi merindukan mereka setiap saat.
“Jadi, Rey. Kalau suatu saat paman akan meninggalkan kalian …”
“Rey. Rey!”
Aku terkejut. Sekejap semua cahaya menghilang. Sekarang hanya ada gelap dan dadaku yang sakit. Jantungku berdetak kencang. Dan suara wanita itu mulai mengganggu.
“Rey, kita sudah sampai.”
“Ya,” jawabku malas. Untuk mengucapkan satu kata itu aja sudah berat.
Aku tadi sepertinya bermimpi. Aku kembali pada malam bersama paman, Malam di masa kanak-kanakku sering dihabiskan bersama paman. Namun yang kuingat hanya ketika malam itu, momen di mana aku menumbuhkan rasa takut akan perpisahan. Mungkin, karena dialog pada saat itu penting?
Suara pompaan gas kembali terdengar. Hawa yang tadinya tidak terlalu dingin kini malah terasa seperti di depan kulkas. Tadinya tidak ada angin yang bertiup, tapi kini mereka berembus kencang seakan membantu Mai membangunkanku. Dingin sekali. Aku menggigil. Ditambah lagi sepertinya selama tidur aku berkeringat.
Mai memukul-mukul jet kapsul. “Rey. Bangun.”
Aku membuka mata dan duduk tegap dalam waktu bersamaan. Nah, sekarang dia tidak berisik lagi. Tapi serius, di sini dingin.
Tubuhku mulai terasa tidak nyaman. Saat merenggangkan tubuh aku juga bisa dengan jelas mencium aroma tidak sedap dari badanku. Apa baunya berasal dari ketiak? Danaw! Aku lupa bahuku luka. Ah, sakit… Aku membuka sabuk pengaman dengan hati-hati, karena deltoid anteriorku rasanya meraung kesakitan.
Suara gemuruh terdengar. Sepertinya pesawat lain baru saja mendarat. Tapi aku tidak tahu di mana. Karena Mai mendaratkan pesawat kapsul di tengah dua bangunan hanggar, aku tidak tahu kenapa dia sampai harus parkir di sini. Oh! Mungkin agar sulit ditemukan jadi bisa dipakai untuk keberangkatan kami yang berikutnya. Tapi tidak tahu juga, dan aku malas bertanya karena sekujur ototku rasanya mau meledak keluar dari kulit.
“
Welcome to Beijing.” Tidak ada semangat di nada bicara Mai meski wajahnya mengeluarkan senyum termanis, terlihat jelas terlalu dipaksakan.
Aku menatap langit. Hitam. Ada bintang menghiasi silih berganti. Dan ada bulan juga, terlihat begitu besar. Semuanya serupa dengan negara sendiri. Jadi seperti ini rasanya keluar negeri. Aku tidak merasa senang sama sekali—entah karena kondisi yang tidak mendukung atau aku masih belum percaya bahwa masih hidup dan berada di dunia ini.
“Yang lain udah pada sampai.”
“Mereka yang di bandara tadi?”
“Entah. Gue nggak tau dari negara mana. Yang pasti Beijing masih ada waktu empat hari sebelum penghancuran. Jadi siapa saja bisa mendarat di sini.”
“Oh, benar juga.”
Mai mengikat rambut cokelatnya. Menyisakan untaian di kiri dan kanan. Keringat terlihat jelas di lehernya yang panjang. Oh, jadi bukan aku saja yang berkeringat. Bagus, tidak perlu gengsi jadinya.
“Ayo cepet. Kita harus cari tempat buat istirahat, makanan, ransel, sama perlengkapan darurat lainnya.” Mai kembali mendahuluiku.
“Lu mau ke mana?” Aku mengikuti sedikit ragu.
“Pertama keluar dulu dari bandara.”
Langkahnya begitu cepat. Antara karena kaki-kakinya yang jenjang atau sedang terburu-buru. Dia melangkah dengan pasti. Tidak celingukan seperti orang tersesat. Karena aku yakin kami menuju arah yang benar.
Mai terlihat begitu kokoh untuk sosok seorang wanita, aku sampai merasa tidak berguna sebagai lelaki di sini. Mungkin ini namanya kesetaraan gender.
Bandara begitu sepi. Lampu-lampu masih menyala, artinya tidak ada pemadaman listrik. Namun, aku tak melihat satupun manusia kecuali kami berdua, padahal tadi rasanya ada pesawat yang mendarat setelah kami. Apa kami menuju ke arah yang benar?
Kami melewati tempat pengambilan barang. Robot pembawa barang tersusun dengan rapi tanpa daya. Semuanya tertata, tidak tergambar pernah ada kepanikan. Aneh sekali rasanya, apakah pemerintahan Beijing sehebat itu sampai bisa meredam kekacauan karena proyek Terminator ini?
“Itu pintu keluarnya!” Mai berlari kecil. Aku mulai penasaran kenapa dia selalu terlihat terburu-buru sejak awal kami bertemu.
“Bukannya ada hotel di bandara ya? Kayaknya bakal lebih deket daripada cari rumah,” aku sedikit berteriak karena jarak Mai yang jauh.
Tapi dia sama sekali tidak mendengar. Yang ia lakukan hanyalah melangkah seperti satpol PP yang mencari mangsa. Mengedarkan pandangannya ke semua tempat yang matanya bisa jangkau. Kurasa dia mencari sesuatu. Mungkin kendaraan?
Sementara, hey! Lihat apa yang kutemukan di sini. Denah bandara. “Mai! Ada denah lokasi nih!” Luas juga ternyata ini bandara.
Hmmm, baiklah. Semuanya dalam bahasa Inggris, bagus. Oh ini dia,
“airport living distric”.Pasti di sana.
“Mai gue dapet nih.” Ke arah mana? Tunggu aku ada di mana? Tadi ada robot pengangkut barang, area pengambilan bagasi? Aku beralih ke jalan. Melihat papan nama jalan. Oh, di sana ada tulisan
“parking lot” dengan tanda panah ke arah barat.
“Berarti hotel ada di utara.”
Sekarang aku yang melangkah dengan tergesa-gesa. Menyusul Mai yang masih grasa-grusu mencari sesuatu. Aku menepuk pelan pundak wanita yang masih berada di dunianya sendiri itu. “Hey. Yuk, di sana ada hotel.”
“Nggak. Jangan. Kita cari kendaraan aja.”
“Udah nggak apa, bisa kita cari besok. ‘Kan yang kita butuhin sekarang tempat istirahat.”
Mai menatapku. Wajahnya terlihat kurang menyenangkan. “Kita cari kendaraan. Nggak ada yang lain.” Dia tidak membentak, tapi berbicara dengan tegas
Tapi aku tak bisa mengikuti keinginannya. Tubuhku lelah. Aku perlu istirahat. Mencari kendaraan saat ini bukan solusi dan entah sampai kapan harus mencari. Lagipula jika dapat juga belum tentu bisa dipakai. Membobol kendaraan sangat sulit tanpa peralatan.
Mai kembali mendahuluiku dan mulai melakukan kembali kegiatan yang ia lakukan beberapa detik yang lalu.
Aku berdiam. Memperhatikan gerak-geriknya dan berpikir apa sekiranya yang membuat Mai begitu terburu-buru. Dan hanya ada dua kata yang terpikir olehku; Dia panik dan takut.
Kenapa aku baru melihat sekarang?
Aku terlalu terpukau dengan kecakapannya menangani segala hal yang terjadi pada kami sejak bertemu. Karena aku melihatnya sebagai orang yang luar biasa, jadi aku melupakan sisi manusiawi darinya. Aku juga panik. Aku juga takut. Bukankah semuanya seperti itu?
“Mai! Mai, tunggui! Woi!” Aku meraih tangannya. “Mai!”
Dia memandangku. Napasnya tersengal-senggal. Keringatnya bercucuran. Kedua matanya berkaca-kaca.
“Tenang. Oke? Masih ada waktu, kita masih punya empat hari di sini, seperti katamu.”
Dia meronta. Menarik tangannya dari genggamanku dan kembali mencari. “Nggak ada waktu buat tenang!” Sepertinya dia tak bisa lagi menahan emosi dan mulai menangis.
Kemudian saat aku masih bertanya-tanya apa yang harus diperbuat untuk menenangkannya, Mai terjatuh. Terbujur kaku di lantai.
“Mai?!”
Aku menggoyang badannya. Tak ada tanggapan. Ia terjatuh dengan posisi telungkup, membuatku mau tidak mau membalikkan badannya. Kayaknya dia pingsan… dan mimisan.
Sial! Kenapa aku baru menyadari keresahannya sekarang! Sementara dari tadi aku merasa aman karena semua Mai yang mengatasi masalah kami. Aku juga tidur di saat dia harus mengendarai pesawat. Laki-laki macam apa aku ini?!
Aku menyapu darah yang keluar dari hidungnya. Tapi darahnya tak berhenti. Sepertinya memang harus dibiarkan saja keluar. Yang terpenting sekarang menemukan tempat peristirahatan, di sana aku mungkin bisa menemukan kain, ember, atau semacamnya untuk membersihkan darah ini.
Wajahnya pucat.
Semakin aku memperhatikan wajah Mai, ingatanku seperti sedang membuka sebuah kotak kenangan. Menyelaraskan masa lalu dan masa sekarang. Lalu saat mendapat kesamaan, kenangan tersebut menjadi jelas.
Wanita yang dulu kukenal juga pernah pingsan sambil mimisan seperti ini.
Previous
Next
Komentar
Posting Komentar