Daftar Light Novel

  Nol Persen Noir ----------------------------------------------------------------------------- Update   Kamis Noir Sabtu Nol Persen (Ongoing)

Nol Persen

File 2




Malam itu segala hal terasa biasa. Angin malam sesekali menyentuh wajahku dengan tangan lembut tak kasat mata, jangkrik masih belum punah dan tetap bernyanyi di kala yang lain terlalu melas untuk bersuara, serta paman yang membaca lembaran koran.

Membosankan. Menjadi orang dewasa terlihat membosankan. Kenapa mereka harus membaca koran yang dari bentuknya saja sudah tidak menarik… atau menonton berita di tv padahal masih banyak acara lain yang lebih bagus—rasanya paman hanya membuang-buang uang dengan membayar internet setiap bulan, tapi dia malah membaca koran bukan e-book atau menonton film-film laga di tv.

Sejak satu bulan pensiun, tapi semua yang dia lakukan hanya mengurusi tanaman, minum kopi, memberi makan burung, lalu minum kopi lagi. Kalau itu aku, aghhh! Rasanya seperti hidup di penjara, paman harus lebih banyak bermain ke luar. Dia bisa saja liburan bersama teman-teman sejawat, atau mengambil paket liburan ke luar kota.

Aku ingin ke menara angkasa, melihat bumi dari stasiun Colony Express yang baru saja selesai awal tahun ini. Tapi tiketnya mahal. Menabung dengan uang jajan sehari-hari rasanya sama saja menabung untuk biaya pemakamanku kelak.

Aku butuh keajaiban, misalnya: bumi dikuasai oleh makhluk yang muncul dari bawah tanah, jadi kami bisa mengungsi ke ruang angkasa. Pasti menyenangkan.

Haah… Aku berharap tak pernah mendoakan hal itu.

“Woi, denger nggak?”

“Hah? Akh.” Bahuku perih. Sesuatu sepertinya menancap.

“Masih bisa jalan?” tanya petugas yang bersamaku sebelumnya.

Kalau tidak salah kami sedang berlari menuju gerbang ke tiga untuk mendapat perlindungan. Tapi lantainya tiba-tiba rontok karena ledakan. Selebihnya aku hanya ingat rasa takut saat langit-langit semakin menjauh dan tubuhku jatuh dengan cepat.

“Gimana? Masih bisa jalan nggak?”

Sepertinya masih. Betis dan bokongku rasanya nyeri, tapi masih bisa digerakkan. Yang perih adalah bahu kananku. Ternyata ada keramik menancap di sana. Darah mengalir perlahan menuruni lengan kananku. Rasa sakitnya makin terasa setelah aku menyadari bahwa tubuhku terluka.

Si petugas melingkarkan tangan kiriku di bahunya dan membantuku berdiri. Kedua kakiku rasanya lemas, sangat berat untuk berdiri, apa lagi melangkah.

“Ah!” Si petugas berusaha keras menjaga tubuhku agar tetap bisa berjalan dengan seimbang. “Kita mesti keluar dari sini, sebelum bangunannya hancur total… kampret! Situasinya makin lama makin parah,” ia mengumpat dengan sungguh-sungguh.

Langkah kami agak sedikit lambat karena harus beberapa kali memanjat bagian bangunan yang runtuh atau mencari jalan lain.

Ada beberapa orang terkapar tak sadarkan diri—aku tidak tahu mereka masih hidup atau tidak—dan ada yang merintih kesakitan. Bahkan ada yang meminta pertolongan karena tertimpa reruntuhan. Hanya beberapa… mungkin lebih banyak jika aku memperhatikan setiap sudut, tapi saat ini aku hanya fokus untuk terus berjalan dan keluar dari gedung ini.

Aku juga tak tahu berapa lama lagi harus berjalan, tetapi sepertinya saat ini kami sudah berhasil keluar dari gedung terminal. Panas matahari menyambar, debu terminimalisir, dan lebih banyak suara.

Tiba-tiba, si petugas yang sangat berjasa tersebut mendorongku, membiarkan diri ini berpelukan dengan aspal yang kasar.

“Mati lu! Bangsat!”

Apa? Kenapa, aku tau aku beban tapi kata-katamu terlalu kasar, petugas. Aku berbalik, memastikan si petugas sedang tidak menodongku dengan senjata. Ternyata memamg tidak, justru sebaliknya dia yang sedang diserang. Ada pria gendut yang sedang memegang pisau, dan pisau itu sedang tertancap di tangan petugas.

Entah kenapa, melihatnya juga membuat tanganku terasa sakit.

Pria buncit lalu menindih petugas. Ia kemudian menarik pisaunya dengan kasar sembari memasang raut wajah yang bengis, sangat bernafsu untuk membunuh orang yang ada di depan matanya saat ini.

Tusukan kedua melesat. Begitu cepat hingga si petugas yang masih berurusan dengan rasa sakitnya, spontan mengorbankan lengan kirinya kali ini, menjaga pisau agar tetap jauh dari wajahnya.

Aku tahu seharusnya tidak hanya diam dan menonton. Namun, apa? Tindakan apa yang harus kuambil? Tidak, aku tak tahu harus berbuat apa. Bahkan jika pikiran ini ingin untuk menolongnya, tapi tubuhku tak tahu apa yang harus dilakukan.

Aku, juga tak mau tertusuk.

Dan di saat itulah pria tersebut kemudian tersungkur ke depanku. Seorang wanita menendang wajahnya dengan kuat dan mengenai mata kanannya

Lelaki berkumis tebal tersebut masih mencoba bangun sambil merintih dan memegangi matanya, sementara tangan kanannya menghimpit pisau dan menopang tubuhnya untuk naik.

Tendang sekali lagi. Tubuhku bergerak dengan sendirinya, instingku bilang kalau mau selamat harus melakukan sesuatu.

Incar ulu hati. Tidak banyak waktu yang tersisa, dan kakiku masih gemetar. Kumpulkan semua tenaga di kaki kanan. Dan tendang dengan seluruh tenaga yang tersisa!

Setelah melepaskan tendangan—yang aku yakini—paling kuat, aku kemudian terjatuh. Bokongku mau pecah rasanya! Tuhan, semoga aku tidak menjadi mandul karena semua ini.

Lelaki itu menjerit. Tapi dia mencoba menahan suaranya meski sambil mengajang. Melihat celah, pisau yang tergeletak di tanah segera kutendang menjauh.

“Ayo! Naik ke mobil gue!” wanita yang bagaikan malaikat penyelamat itu berteriak dengan tegas seperti mengatakan 'kalau mau hidup ikuti aku, kalau tidak ya mati saja di sini!’.

Ia membopong petugas yang telah berlumuran darah, mendorong tubuhnya agar berjalan lebih cepat. Ia juga menarikku dengan kasar, aku terjatuh dan terseret beberapa kali hingga bisa berjalan dengan baik. Kami masuk ke dalam mobil mini bertenaga elektrik tanpa roda.

Mobil mengambang di udara—aku bisa merasakan benda ini naik—kendaraan kami mulai bergerak. Kaca mobil tak luput dari hantaman benda tumpul. Massa berteriak untuk menyerahkan petugas yang ada bersama kami.

“Hey, ambil pistol ini,” perintah si petugas sembari berbalik badan dan menatapku dengan sebagian wajahnya yang dihiasi darah.

Aku menuruti perintahnya.

“Tembak, lurus ke depan… nggak penting ngincar siapa, tapi tembak aja lurus ke depan…”

Serius? Aku harus menembak? Apa tidak masalah? Oh, ayolah!

“Cepat!”

“Em…,” aku tidak yakin. Dalam keraguan, mataku bergulir ke arah lengan si petugas. Kacau, kurasa untuk makan saja akan sulit… mungkin dia akan melakukannya sendiri jika satu saja tangannya bisa digunakan. “Bagaimana caranya?”

“Tarik aja pelatuknya. Ini otomatis.”

“Ok…” Aku mengangkat tangan di depan dada dan membidik lurus.

Si petugas dan wanita reflek menempelkan tubuh mereka pada mobil, menjauh dari posisi tengah.

Tarik pelatuknya. Aku menembak dengan mata tertutup. Saat meletus dan kaca pecah, aku hampir saja terperanjat.

Kerumunan sedikit menjauh. Hingga mobil dapat melaju dengan leluasa, diikuti angin yang bertiup kencang menyapu poniku dari depan.

“Oh, ada P3k di penyimpanan dashboard. Em.” Wanita itu membuka dan mengambil P3K tersebut sembari tetap mengendarai. “Ini, bisa obatin sendiri 'kan?”

“E… yap. Makasih,” balas si petugas ragu.

Sebaiknya aku membantunya. Ya, seperti balas budi? Tak banyak yang bisa kulakukan. “Sini, biar kubantu.”

Ia memberikan lengannya. Dengan hati-hati layaknya sedang mencabut duri dari pantat beruang, aku melipat lengan baju seragamnya dan membuka sarung tangan. Oh kawan,ini darah yang banyak.

Aku menyinari lukanya dengan potion, sebuah alat yang bisa mempercepat pengeringan luka. Jika kecil biasanya akan cepat kering, minimal satu menit. Namun, jika lukanya dalam seperti ini hanya berefek untuk menghentikan pendarahan. Cukup membantu.

Oh, paman pernah cerita kalau nama benda ini berdasar dari game. Potion, sebuah benda penyembuh praktis. Aku kurang tahu detailnya, karena tak punya uang untuk membeli konsol. Paling sekali seminggu aku dan Ilham pergi ke warung virtual reality dan bermain bulutangkis atau game survival.

Ilham… oh, ini belum setengah hari, tapi aku merindukannya. Aku berharap mereka berdua tak mengalami sesuatu hal yang buruk.

“Mau pakai pain killer?” tanyaku memastikan sebelum bertindak lebih jauh.

Dia menggelengkan kepala. “Nggak, biar aja. Udah biasa…”

“Ow, jadi… serius? Kalo gue sih ya, bakal cari kerja yang lain aja.”

Si petugas hanya diam tak membalas. Astaga Rey, ngomong apa sih kau?

Aku meneteskan obat merah di telapak tangannya. Kemudian menempelkan kapas lalu perban. Membalik telapak tangannya dan melakukan hal yang sama kepada punggung tangan. Baru setelah itu membuat perban melingkar. Lagi, hal yang serupa kulakukan pada lengan kiri setelah membersihkan darah yang mengotori di sekitar luka tusuknya.

Selesai.

“Op, macet…” Wanita dengan rambut cokelat panjang bergelombang itu berhenti beberapa meter di depan tumpukan mobil.

“Ini namanya bukan macet lagi, tapi ketutup.” Tumpukan mobil di depan tidak sedang mengantri, tapi bersemerakan layaknya mainan anak umur dua tahun. Para pengemudinya tak lagi ada di tempat. Jalanan bebas dari manusia, hanya ada kendaraan mereka. “Kita mau ke bandara?” aku memastikan. Karena ini adalah tol masuk bandara.

“Yep. Kabarnya disebarkan melalui pesan berantai. Katanya petugas mau bantu kita buat pergi ke negara lain dengan pesawat,” jelasnya sembari memutar mobil, tapi kemudian berhenti dan mulai ragu ke mana lagi kami harus pergi.

“Rencananya kami bakal bawa warga buat pergi ke negara yang waktu penghancurannya masih tiga atau empat hari ke depan. Jadi nomaden, entar bakal terus pindah ke tempat yang jadwal penghancurannya masih lama atau yang sudah melewati tahap pengahancuran.” Si petugas merintih.

Lalu mereka sendiri bagaimana? “jadi bagaimana dengan keberangkatan kalian?”

Lelaki yang babak belur itu menarik napas panjang dan membenarkan posisi duduknya. Lalu memutar-mutar benda kecil di dekat bahu kiri. “Temen saya delapan bersaudara. Belum dihitung jumlah anak, istri, dan cucu masing-masing. Dia PNS, adik dan kakaknya ada yang wiraswasta… nggak bisa dibilang sukses atau terlalu pas-pasan juga. Tiga yang paling muda dan baru mulai berkeluarga berangkat, sekalian sama anak dan cucu dari kakak dan abang mereka.

“Temen saya termasuk yang tua jadi dia tetap tinggal. Tanah semuanya dijual… kecuali rumah ibu mereka yang usianya udah hampir delapan puluh tahun. Mereka ngebiarin yang muda lanjutin masa depan, dan sisanya nemenin ibu mereka.

“Itu baru satu keluarga. Satu pulau. Kita cuma punya dua colony express, dan masing-masing cuma satu jalur. Walau kami dipaksa nodong senjata, tapi masih ada yang punya hati kok.” Ia menutup penjelasan panjangnya dengan tawa yang dipaksakan.

Tak ada yang ingin menanggapi, baik aku dan wanita di kursi pengemudi yang sedang membuang pandangannya ke luar jendela.

“Hal seperti ini juga udah diprediksi. Jadwal keberangkatan kami dua jam setelah kepergian warga sipil yang terakhir. Kami ragu bisa bertahan menjaga stasiun selama itu dengan massa yang ingin menggorok semua kepala petugas yang keliatan sama mereka.”

“Jadi kalau kalian berhasil pergi, maka ada sukarelawan. Dan kalau tidak, maka rencana B berjalan,” wanita itu menambahkan.

Oh, jadi kalau para petugas keamanan bisa bertahan, maka sebagian mereka ada yang tidak pergi ke colony dan tetap tinggal untuk membantu rencana evakuasi di bandara, sedangkan rencana B itu… semuanya ikut evaluasi gitu?

“Yah, kira-kira begitu. Ups… terhubung.” Petugas terkesiap. “Base satu, monitor, base 1.” Si petugas menempelkan wajahnya di bahu kiri.

“Di sini base 1. Ganti.” Suara radio terdengar jelas.

“Kami ada di Tol Trans. Ada Gunner yang bakal lewat tidak? Kami butuh tumpangan. Ganti.”

“Baru saja mengudara. Ada dua. Akan kuhubungi salah satu agar bisa menjemput kalian. Nyalakan GPS. Ganti.”

“Diterima.” Lelaki itu menarik napas lega. “Oke, kita tinggal nunggu.”

Untuk pertama kalinya dalam satu hari ini aku merasa lega. Benar-benar tidak akan ada masalah hingga jemputan datang 'kan? Tidak, kumohon hindarkan aku dari masalah hingga berhasil lolos dari kemalangan ini, wahai Tuhan-ku.

“Mai Hyana.” Wanita itu tiba-tiba mengulurkan tangannya pada petugas.

Lelaki itu menatapnya dengan penuh tanya selama beberapa detik. “Ah!” Dia kemudian tersenyum dan menjabat tangan wanita yang memperkenalkan dirinya sebagai Mai Hyana tersebut sembari juga menyebutkan label diri, “Ferdi, au!” Si petugas sepertinya hendak menggenggam erat lengan kurus Mai, tapi tangannya kelihatan tidak terlalu sehat untuk melakukan itu.

Mai lalu gantian menatapku.

“Rey, Ray Septian.” Kami berjabat tangan.

Mai tersenyum simpul. “Mai Hyana.”

Wanita bernama Mai itu menatapku lama. Membuat suasana di antara kami sedikit canggung—atau cuma aku doang yang baper?

Aku menatap matanya begitu lama, entah kenapa rasanya nyaman memandangi pupil cokelatnya. Padahal selama ini berbicara sambil memperhatikan mata orang sulit sekali rasanya. Perlahan pupilnya melebar, tak lama kemudian ia segera meraih P3K dan keluar dari mobil, kemudian membuka pintu di sebelah kiriku dan duduk seraya mengambil perban, obat merah, dan yang lainnya dari dalam kotak.

“Lu ketusuk gini nggak sadar?” ia memegang bahuku dengan hati-hati.

Tertusuk? Aku?

“Aw!” aku merintih.

Rasa sakit datang tanpa diundang. Aku baru ingat bahuku tertusuk saat jatuh dari lantai satu stasiun. Aku juga tidak habis pikir kenapa rasa sakitnya sempat hilang. Tetapi, setelah mencerna semuanya dengan perlahan, kurasa ketegangan yang membangkitkan adrenalin hingga luka ini tidak terasa.

“Rileks aja, senderan,” Mai mendorong tubuhku untuk bersandar.

Aku menarik napas. Mencoba sebisa mungkin melemaskan tubuh.

Bau cokelat. Aku membuka mata. Kembali menarik napas pelan, membiarkan aroma harum itu masuk melintasi lubang hidung. Hingga aku tahu, bau semerbak itu datang dari Mai.

Ia mengernyitkan alisnya. Mata cokelat itu hanya fokus pada satu hal, serpihan bangunan yang menancap di bagian antara bahu dan dada. Jemari panjangnya dengan lembut bergerak mendekati benda tersebut. Sedangkan tangannya yang lain masih menempel di dadaku, menahan tubuh ini untuk tetap tersandar.

Sebelum bertindak lebih jauh, Mai mengalihkan pandangannya padaku dan bertanya, “gue tarik, ya?”

Ketika mata kami saling bertemu, aku sadar telah memandangnya begitu lama dan itu tidak baik. Jadi saat ia selesai berbicara, kualihkan pandanganku pada pipinya dan mengangguk.

“Ok, tahan ya.”

Mai kembali fokus pada lukaku. Rambutnya terurai saat menundukkan kepala. Ia kemudian menarik rambut cokelatnya ke belakang telinga. Memamerkan leher panjang yang berkeringat hingga bagian tulang selangka yang terlihat di balik baju kemejanya (bagian atas tidak dikancing).

Tubuhku tersentak. Dalam satu ketukan, ia menekan dadaku dan menarik benda yang menancap di bahuku dengan cepat.

Aku menjerit, seperti wanita.

Selama dua puluh tiga tahun hidup, baru kali ini aku mengalami luka separah ini!

Mai mengambil kain entah dari mana—fokusku hanya pada sakitnya luka—kemudian menekan lukaku yang mana semakin membuat sakitnya menjadi.

“Tahan, tahan.”

Aku memendam suara. Menghirup udara sebanyak yang kubisa dan menusuk bangku mobil dengan kuku jari.

Aku tidak tahu apa diriku termasuk lelaki yang lebay, tapi ini benar-benar sakit. Tetapi semua pria di dalam film dapat mencabut kaca yang menancap di tubuh mereka dengan mudah dan hanya mengeluarkan erangan kecil!

Tapi itu di dalam film 'kan? Semua orang ingin pemeran utama yang gagah dan tahan banting. Ini kehidupan nyata! Bahkan terkena tembakan di kaki bisa membuat kita mati!

Ferdi! Di mana dia? Aku ingin bertanya apa dia itu semacam psikopat? Tangannya tertusuk, keduanya! Dan dia sama sekali tidak menjerit saat aku obati.

Mai kemudian membantuku untuk membuka baju. Setelah memberikan sinarpotion, Mai memberikan obat merah dan menutup luka dengan perban.

“Beres. Sakit ya? Maaf,” ucap Mai sambil menggigit bibirnya.

“Iya, nggak masalah. Malah makasih udah diobatin.”

Pikiranku berada di tempat lain. Kata-kata itu keluar begitu saja tanpa kupikirkan.

Lagi-lagi aku terlalu lama menatapnya. Merasa tidak enak, segera kualihkan pandanganku ke tempat lain. Di luar, Ferdi sedang berdiri menatap langit. Kemudian ia melempar sesuatu.

“Oh, bom asap,” Mai segera tahu dan beranjak keluar dari mobil.

Dan di sini aku, kembali memperhatikan gerak-geriknya. Bukan karena terpesona atau jatuh cinta pada pandangan pertama. Dia mirip dengan seseorang.

Suaranya berbeda. Orang yang kukenal memiliki suara alto dan Mai mungkin berada di tingkat mezzo-sopra—jika aku tidak salah ingat (aku kurang memperhatikan kelas dulu). Cara berjalannya juga berbeda. Orang yang kukenal berjalan lebih anggun. Sementara Mai berjalan lebih tegas dan cepat.

Tapi selebihnya, mereka bagaikan pinang dibelah dua.

Perasaanku seketika berubah. Hari ini adalah bencana, tapi memikirkan orang itu di tengah semua ini… lebih membuatku muak. Aku muak dengan bumi, muak dengan orang-orang tolol yang membuatku tidak bisa berangkat. Dan aku muak pada diriku sendiri.

Pada keadaan seperti ini, apakah kau pernah bertanya pada dirimu, bagaimana keadaanku saat ini? Di mana aku sekarang? Apa hanya aku yang selalu memikirkanmu?!

Sialan.

Sepertinya aku terlalu berlebihan. Setiap orang punya masalah. Terlalu banyak ruang hanya untuk memikirkan satu orang. Aku tidak seharusnya…

Kaca mobil diketuk. Mai membuka pintu, “Gunner-nya udah dateng,” Mai sedikit berteriak karena suaranya terhalang bunyi mesin gunner.

Angin menyapu debu yang bersemayam di aspal jalan. Titik-titik pasir sesekali mendekati kelopak mataku. Jadi aku harus berjalan dengan kepala tertunduk. Asap hijau menyebar dan perlahan menghilang tertiup angin yang kencang.

Gunner adalah kendaraan udara berukuran kecil. Dari atas terlihat seperti ikan dengan sayap yang memiliki baling-baling. Di bagian depan terdapat dua kursi pilot dan kopilot. Sementara di bagian tengah terdapat ruang tanpa kursi. Di bagian kiri terdapat senjata massal, dan bagian kanan dibiarkan kosong. Lalu ada dua kursi di bagian ekor.

Bobotnya yang kecil membuat gunner dapat terbang rendah.

Ada dua orang yang menyambut dan membantu kami naik. Setelah kami bertiga naik, salah seorang memberi sinyal pada pilot untuk kembali mengudara.

“Bagaimana situasinya?!” Ferdi berteriak.

“Kacau! Warga udah menerobos masuk dari setengah jam yang lalu. Jadi nggak teratur!”

“Mereka udah panik duluan! Tim medis juga banyak dikirim ke sana! Banyak warga yang keinjek pas desak-desakan, atau berantem karena berebut pesawat!”

Lelaki satu lagi menggelengkan kepala, “padahal semuanya udah diperhitungkan jauh-jauh hari! Mereka pasti kebagian, tapi…” petugas tersebut tak melanjutkan kata-katanya. Ia mengendus kesal.

“Kalau di stasiun?!” Ferdi kembali bertanya.

“Ditinggalkan!” kali ini kopilot yang berbicara, “orang-orang satu per satu mati! Senjatanya diambil buat ngelawan petugas yang masih hidup!”

Ya, aku bisa bayangin. Karena kami baru saja selamat dari kumpulan kanibal baru jadi itu.

“Kita kalah jumlah! Kalau misal pun bawa gunner buat jemput petugas yang tersisa, lokasi penjemputan harus bersih. Berapa warga lagi yang mau kita bunuh?!” si kopilot menyelesaikan kalimat dengan pertanyaan.

“Kita cuma bisa doa, semoga temen-temen yang tersisa bisa keluar dari sana gimanapun caranya!”

Obrolan selesai. Dan aku mengucapkan kata “amin” di dalam hati—mungkin sama dengan yang lain.

Dari atas sini, semua tampak begitu kecil dan luas secara bersamaan. Segala hal terasa sepi. Meski baling-baling gunner menutupi segala suara, tapi tetap saja gaung keheningan dapat menyelip pada udara yang masuk ke dalam telingaku.

Jalan-jalan sepi. Hanya ada kendaraan yang tercecer di sana-sini. Tepat di depanku, adalah sebuah gedung dengan tinggi kira-kira lima puluh meter. Biasanya menjelang sore, berbagai macam warna akan mulai menari pada bagian luar bangunan. Kemudian jadi mempesona pada malam hari. Namun tidak hari ini. Meski matahari mulai menyingsing di bagian barat, segala hal tetap terlihat murung sebagaimana saat terik matahari menampar di siang hari.

Dan saat ini juga aku sadar. Ah, jadi seperti ini kelihatannya saat bumi mati.

Aku ingin ikut menangis, jika bumi bersedih—dan kalau saja aku dapat mendengar rintihannya.

“Kita sampai!” si pilot berteriak.

Ada beberapa petugas yang menjaga jalur masuk. Sementara di bagian landasan terlihat ramai bagai kawanan semut.

Tampak juga dua gunner yang mendarat dan menurunkan beberapa personil. Ada satu pesawat yang bergerak menuju jalur pacu. Dan jika aku tak salah lihat, para petugas mencoba membatasi antara warga dan jalur pacu agar pesawat dapat lepas landas.

Mereka menembaki orang-orang yang menerobos.

“Itu tembakan listrik, cuma buat lumpuh!” jelas Ferdi. Mungkin ia tak ingin aku salah paham.

Gunner yang kami naiki mendarat. Setelah kami turun, benda itu kembali pergi, mungkin untuk menjemput petugas lainnya.

“Kalian berdua, ada yang bisa bawa pesawat?” tanya Ferdi merogoh kantong rompi-nya.

Mai mengangguk, “gue bisa.”

“Ini,” Ferdi menyerahkan sebuah kartu. “Dari sini lurus terus. Mentok belok kiri. Di sana ada jet kapsul, muatan dua orang. Pakai kartunya buat buka hanggar.”

“Oke,” Mai menggembungkan pipinya dan menghela napas.

“Lu nggak ikut?” tanyaku pada Ferdi. Apa ini artinya perpisahan?

Ferdi tersenyum, memperlihatkan gigi-gigi putih bersihnya, “nggak. Masih banyak yang harus dikerjain,” ia berbalik badan menyebarkan pandangannya pada warga, “tadinya itu buat cadangan. Temen gue yang nemuin. Tapi dia kayaknya nggak bakal bisa sampai ke sini.”

Terus kenapa? Kau harusnya pergi kalau sudah tahu keadaannya runyam seperti ini! Lihat tanganmu, bahkan menggenggam senjata saja sulit. Ah, aku ingin mengatakannya. Tetapi mungkin Ferdi tidak akan senang mendengar perkataan yang memintanya untuk lari.

“Makasih,” Mai memecah kebisuan di antara kami. “Ayo, Rey,” ia kemudian melangkah terlebih dulu.

Sial! Aku tak bisa meninggalkan orang berjasa ini begitu saja, tapi…

“... makasih. Aku nggak tau gimana bales semua kebaikan lu. Tapi, kita harus ketemu, di lain waktu.”

Ferdi menaikkan alis, “tentu. Di lain waktu.”

Kau harus tetap hidup. Agar aku tak merasa memiliki hutang yang berkepanjangan

Aku melambaikan tangan tanda perpisahan kepada Ferdi sebelum berlari menyusul Mai.

Wanita itu sudah jauh di depan. Caranya berlari beda dengan kebanyakan wanita yang kukenal. Semua wanita hampir memiliki gaya lari yang sama. Lambat, kedua tangan di samping dada seperti seorang yang sedang mengangkat tangan karena merampok, dan sebagian mereka lari dengan badan yang lentik.

Tapi Mai di sana tidak. Ia berlari bagai pria tulen. Tubuhnya kadang lurus ketika kaki-kakinya melambat dan sedikit condong ke depan ketika laju.

Seketika ia sudah berada di ujung. Berhenti sebentar dan menoleh ke arah kiri. Merapikan poni rambut dan kembali berlari pada arah yang telah diberitahu oleh Ferdi.

Kalau diingat-ingat, kenalanku yang mirip dengannya itu… aku tidak pernah melihat dia lari, selalu berjalan dengana nggun.

Ngomong-ngomong pergelangan kakiku mulai pegal. Mungkin jika besok sampai lusa masih harus berlari, aku yakin bakal lumpuh total.

“Rey!” teriak Mai saat aku tiba di pertigaan.

Dia berdiri di mulut hanggar sambil melambaikan tangan. Sepertinya ia sudah menemukan jet kapsul yang Ferdi maksud.

Tenagaku mulai habis. Aku juga kesulitan mengambil napas. Jadi kurasa berlari-lari kecil juga cukup. Hanggarnya tidak terlalu jauh.

Sinar matahari perlahan padam. Aku melihat langit. Matahari tertutup awan kelabu. Gumpalan awan yang siap menumpahkan jarum dingin mereka menutupi langit biru. Kenapa cuacanya bisa berubah secepat ini? Padahal dari tadi panas menusuk.

Atap hanggar terbuka dan menggema. Di tengah ruangan persegi panjang ini ada sebuah benda berbentuk tabung panjang. Dengan bagian depan yang runcing dan bagian ekor sama seperti pesawat pada umumnya.

Posisi benda bernama jet kapsul ini mendongak ke atas dan yang ada di sekitarnya mungkin pelontar? Aku baru tahu ada yang seperti ini.

“Yakin bisa nerbangin yang beginian?”

Mai mengangguk dengan menaikkan alisnya. “Yep. Ayahku dulu bekerja sebagai pasukan udara.”

“Oh, jadi anak tentara ceritanya?”

Bibirnya melebar dan tersenyum. “Ya, gitu deh.”

Setelah mengoprek-oprek pelontar—anggap saja gitu karena aku juga tidak ngerti—Mai kemudian menapaki tangga kecil yang mengantarnya pada bagian pengemudi.

“Oke. Semua aman.” Mai menghela napas lega. Ia kemudian mengisyaratkanku untuk ikut naik ke atas sana sembari berkata, “ayo. Sebelum turun hujan, kita harus gerak cepat. Belum lagi nanti takut orang lain ke sini dan malah menjarah tumpangan kita.”

Ya, aku setuju. Ayo segera pergi. Aku lelah kalau harus berhadapan dengan orang-orang yang sedang hilang akal pada situasi seperti ini. Satu luka tusuk sepertinya sudah cukup.

Selagi aku menaiki anak tangga yang totalnya ada enam. Mai membuka bagian kaca yang sedikit menonjol dari pesawat.

TESS

Kaca terbuka. Ada empat kursi di dalamnya. Cukup sempit. Mungkin lebih kecil dari mobil mini Mai?

Mai segera masuk dan duduk di kursi pengemudi. Menekan-nekan beberapa tombol hingga jet kapsul menyala.

Aku duduk di sebelahnya. Memasang sabuk pengaman. Kemudian bersandar di kursi—atau posisi ini lebih tepatnya tiduran? Karena pesawat tegak enam puluh derajat.

“Oke. Sabuk pengaman.” Mai berbicara pada dirinya sendiri mungkin. Setelah ia mengenakan sabuk pengaman, Mai lalu menutup kembali jendela.

Kilat dan gemuruh petir menyambar di atas awan-awan hitam yang ada di atas kami. Sepertinya situasi selalu bertambah buruk.

Bunyi pantulan air hujan mulai terdengar saat rintik hujan menabrak kaca kapsul.

“Pakai masker,” perintah Mai yang lebih dulu sudah memakainya.

Oh iya. Aku baru sadar ada di bagian ujung kiri dasbor.

“Lu nggak punya penyakit jantung 'kan?” tanya Mai saat aku sedang sibuk memasang masker oksigen.

Aku menggelengkan kepala.

“Tarik napas panjang.” Ia memperagakan dengan diikuti gerakan tangan. Aku dengan polosnya mengikuti. “Buang. Haaah.”

Yak, kami sedang belajar bernapas.

“Sip. Dengerin gue. Ini pesawat lepas landasnya pakai pelontar. Jadi kita bakal ditendang ke langit sampai tembus awan-awan hitam itu. Jadi yang perlu lu lakuin adalah berdoa supaya kita nggak kesamber petir, dan siapkan mental karena kita bakal di lempar kenceng banget.”

Aku mengangguk dengan ragu. Apa benar ini tidak masalah? Tapi melihat langit yang tertutup awan hitam seperti itu rasanya … Tuhan, untuk yang kesekian kalinya. Mohon lindungi hamba!

Aku mencoba tenang………. Tapi tidak bisa!

“Kita lepas landas dalam satu.”

Mati aku, mati aku, mati aku, mati aku, mati aku, mati aku.

“dua.”

Mati aku, mati aku, mati aku.

“Tiga!”

Sesuatu meledak. Ya aku yakin sesuatu meledak! Aku mati! Kami akan mati!

Awan hitam itu mendekat—tidak, kami yang terbang menantangnya—tubuhku terasa tertinggal di belakang. Jantungku berdegup kencang. Kuku jariku menusuk bangku yang dilapisi kulit. Aku tidak bisa bernapas dengan tenang.

Sekarang aku tau apa guna kantong oksigen.

Di antara hidup dan mati aku melirik Mai. Wanita itu tersenyum. Ia menutup satu matanya. Seperti biduan yang sedang menggoda para lelaki hidung belang—bedanya saat ini dia sedang menggoda awan bermuatan listrik yang bisa menghanguskan kami dalam hitungan detik.

Dia cantik, tapi gila.

Lebih baik pejamkan mata. Ya, semua akan berlalu. Dan saat aku membuka mata, nanti semua hanya mimpi.

Pesawat bergetar hebat. Lebih hebat dari kursi pijat di minimarket.

Namun, itu tidak berlangsung lama. Permohonanku kali ini dikabulkan dalam sekejap. Air hujan yang menyerbu deras kini tak lagi terdengar rintiknya. Aku masih bisa mendengar suara petir, tapi rasanya cukup jauh. Dan panas ini …

Aku membuka mata. Pesawat kini terbang lurus ke depan. Aku bisa melihat langit senja berwarna merah seperti dunia atas sedang terbakar. Aku menoleh ke luar jendela.

Ah, kami ada di atas awan. Dan, oh! Kapsul ini punya sayap rupanya. Kecil dan panjang. Apa baru bisa keluar saat sudah mengudara? Sama seperti ban pesawat yang bisa dikeluar-masukkan, entahlah. Mungkin saja.

“Selamat datang di penerbangan darurat kami.” Mai sudah membuka maskernya. Dia terlihat begitu lega sampai ingin cepat-cepat melucu. “Tujuan selanjutnya ….’

Senyum itu terpancar bersama sinar matahari yang menyerempet pipinya.

“Beijing!”

Semua keindahan seperti sedang berpusat pada dirinya. Dan aku diam seribu bahasa mengagumi setiap detik keelokannya.





Previous

Next

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nol Persen