Daftar Light Novel

  Nol Persen Noir ----------------------------------------------------------------------------- Update   Kamis Noir Sabtu Nol Persen (Ongoing)

Nol Persen

File 1



Jakarta 30 November 2396


Bukan hal yang lumrah mungkin bagi anak laki-laki untuk bergunjing tentang siapa yang mereka sukai, apa yang paling mereka benci, makanan favorit, bahkan hingga apa yang paling mereka takuti. Ya, mungkin terlihat biasa… tapi ayolah! Mereka adalah lelaki.

“Okey, giliran lo, Rey!”

Pertanyaan yang menjadi topik utama saat ini adalah 'hal yang paling ditakuti dalam hidup’. Pertanyaan berjalan sesuai dengan arah jarum jam dan kini tiba pada giliranku yang merupakan orang terakhir dalam lingkarang yang hanya berisi empat orang ini.

“Emmm.” Jadi apa yang paling aku takuti? Ayolah! Ini hanya kegiatan bodoh yang bahkan tak ada maknanya sama sekali, dan aku bisa pergi kapan saja. Buat apa susah-susah berpikir?

“Dih, lama banget ni anak mikirnya!” ujar Pejo yang duduk di seberangku sembari menghirup rokok elektriknya dan menyemburkan asap dari mulut dan kemudian hidung secara berurutan. Angin yang berhembus dari kipas di atas kami perlahan membuat asap berpencar, lalu hilang. Baunya harum, aroma kopi jadi aku sama sekali tidak terganggu.

“Hantu? Gue belum pernah liat jadi kayaknya bukan…,” balasku masih belum mengeluarkan jawaban yang konkrit dan terus mengulur waktu.

Toyib menaikkan kedua alisnya. Mata yang sayu itu telah memerah. Sudah jam tiga pagi. Dengan pekerjaan yang Toyib tekuni hari ini, aku cukup yakin matanya sudah lima watt. Tak lama kemudian Toyib—dengan jemari tangannya yang kurus dan panjang—meraih rokok elektrik Pejo dan menghisapnya dalam.

Yah, harus cepat kuakhiri karena mereka punya jadwal yang lebih penting besok.

“Sendirian.” Satu kata yang keluar dari mulutku dan membuat mereka semua kembali dalam permainan.

Adit yang duduk bersila menyandarkan tubuhnya pada punggung kursi dan mengulangi perkataanku dengan penuh tanda tanya, “sendirian? Kenapa? Takut ditemenin hantu?”

“Lo pada mikirnya mistik mulu ye.”

“Ya mau gimana, udah ciri khas kita,” balas Adit cepat, yang kemudian meneguk kopi hitamnya.

Aku memberinya senyum kecut. “Mau dilanjut ga nih?”

Adit memberi simbol 'ok’ dengan jempolnya.

“Em, misal dikaitin sama hantu. Aku nggak takut kalo liatnya bareng, atau kena PHK bareng… intinya sih, aku takut dan paling takut kalo ngebayangin secara tiba-tiba aku cuma sendirian. Mungkin ada saatnya, tapi aku nggak mau secepat itu.”

Mereka bertiga tetap memperhatikan. Tak ada yang mencela atau mengolok-olok jawaban tidak jelas yang kuberikan, dan aku tidak tahu apakah itu karena mereka bingung atau sedang menunggu penjelasanku yang lebih rinci.

“Emang kapan?” Pejo mengajukan pertanyaan karena tampaknya ia sadar bahwa penjelasanku hanya sampai di sana.

“Emm, saat kita mati. Terkubur dalam tanah atau jadi abu di dalam guci kecil. Mungkin, mungkin alam setelah kematian benar-benar ada… tapi, pasti ada selang waktu di mana kita bener-bener sendirian. Coba bayangin,” aku mengubah posisi duduk lebih condong ke depan dan menaikkan satu kakiku di atas kursi. “Kita bisa liat semua yang sedang terjadi, tapi karena ada di dimensi yang berbeda jadi kita nggak bisa ngelakuin interaksi apapun. Rasanya kayak nonton film, tapi sendirian.”

“Jadi intinya lo takut mati gitu?” Adit memotong sambil mengerutkan kening.

“Yaaa,” apa aku takut mati? Ya, tentu! Kebanyakan orang takut dengan yang namanya kematian. “Iya sih… tapi ini lebih ke arah kesendiriannya. Karena gue pikir, kalau kita ada di suatu tempat sendirian tanpa satupun sosok yang dapat diajak bicara atau diajak berinteraksi, ya sama aja dengan mati.”

Kelopak mata Toyib tertutup dengan halus, tubuh kekarnya mulai jatuh terbawa gravitasi. Namun, sebelum ia terlelap dan tersungkur, kesadarannya kembali. Ia terjaga, dengan mata yang merah serta tampang linglung.

Sementara Pejo kembali menghisap rokok elektrinya sembari mengangguk. Dan si Adit mengambil satu bakwan berminyak yang sudah dingin terkena angin malam.

“Labiah takuik lai kok hantunyo tu awak surang,” potong pemilik kedai kopi sembari membersihkan dagangan dan bersiap untuk tutup karena hanya tinggal kami sajalah pelanggannya. Cara paling halus untuk mengusir orang luntang-lantung seperti kami.

“Kok gitu?” Adit bertanya penasaran sembari mengunyah. Mulutnya itu tidak pernah bisa berhenti mengunyah.

“Yo, maleh den, mancaliak sesamo hantu. Seumur-umur hidup, awak baru sakali maliek hantu, itu pun lah nio pengsan… apalagi kalo ketemu tiap hari, tiap menit, tiap detik,” jelas Pak Umar dengan logat serta bahasa minangnya yang bercampur dengan bahasa umum.

“Nah, bener juga!” sambut Toyib yang kembali bersemangat jika sudah membahas hal-hal yang berhubungan dengan si tak kasat mata.

“iya, gue juga heran sama orang-orang indigo atau yang punya-punya ilmu gitu kok kuat mereka.” Pejo bergidik.

Rel obrolan kembali tersusun memanjang. Topik kembali hadir entah bagaimana caranya: mulai dari persoalan wanita, kehidupan, hal-hal mesum, hingga keresahan masing-masing dari mereka. Terkadang aku berpikir, mungkin laki-laki tidak terlalu senang merumpi atau bergosip tentang seseorang, tapi mereka handal dalam berbicara omong kosong dan hal bodoh lainnya.

Dan aku juga bingung kenapa masih bertahan di sini, mendengarkan ocehan mereka sembari sesekali tertawa paksa atau terbahak sekalipun. Waktu terasa panjang, benar-benar panjang.

Kami semua bubar tepat pukul setengah lima pagi. Jarak kedai kopi tak begitu jauh dari rumahku, hanya dua gang. Hawa sejuk semakin menusuk, aku memegangi dua sisi jaket yang tak berkancing—karena sudah rusak—dan menariknya mendekat seraya meringkuk berharap angin tak bisa menembus pertahanan ini hingga ke tulang.

Gemuruh terdengar di langit jauh, membuat dadaku bergetar. Percikan api terlihat mendaki langit pagi, terus hingga akhirnya menghilang. Keberangkatan pertama Colony Ekspress hari ini. Aku penasaran bagaimana rasanya, menaiki benda yang melaju secara vertikal ke atas langit dengan kecepatan 8 mach, di atas sebuah rel yang berdiri tegak sembilan puluh derajat.

besok aku juga akan meninggalkan bumi… begitu juga dengan Adit, Pejo, dan Toyib yang akan berangkat petang ini. Pertemuan barusan menjadi kumpul-kumpul tidak jelas kami yang terakhir di bumi.

Aku tiba di depan pintu rumah. Menekan tombol untuk membuka pintu dengan sandi yang telah ditentukan —K3LU41264— bunyi dentingan kecil terdengar, pintu baja dengan nomor 363 terbuka dari kiri ke kanan. Lampu menyala ketika aku masuk, ruangan berukuran 1 x 1 meter ini adalah rak sepatu, payung, atau jas hujan dan alat perkakas berada. Setelah menempatkan sandalku dengan rapi, kuputar gagang pintu kayu berwarna cokelat di samping kiri rak.

“Tumben jam segini udah pulang?” Baru saja tiga langkah aku memasuki rumah, wanita dengan T-shirt tabu-abu polos segera menanyai rutinitasku yang berbeda dari biasanya.

Aku memanyunkan bibir dan menaikkan kedua alisku. “Mereka mau packing,kan sore ini berangkat.”

Wanita itu sibuk mondar-mandir mengambil lauk dan sambal yang telah ia masak dan meletakkannya di meja makan. “Oh iya, duh lupa gue… kalo itu semacam perpisahan kalian. Padahal ntar di sana juga pasti ketemu,” ucap Sharina sembari menggidik bahu untuk mengolok-olok kegiatanku dengan teman-teman.

“Masak apa?” tanyaku mengabaikan gurauan yang jika dilanjutkan tidak akan ada habisnya.

“Sop doang pake sosis sapi, sambel trasi, bakwan.” Serius bakwan lagi? Apa cuma itu cemilan yang paling enak di dunia?

Dentingan dari depan rumah kembali terdengar. Satu lagi anggota keluarga yang pulang. Tak berantusias untuk menyambut siapapun, aku duduk dan segera mengambil piring yang telah ditumpuk oleh Sharina. Lalu menyerok nasi yang ada di dalam bakul. Belum sarapan namanya kalau belum makan nasi.

“Aku pulaaaaaang!” Ilham membuka pintu seraya berteriak dan kemudian membuka kedua tangannya lebar menanti pelukan dari siapa saja yang berniat melakukan hal tersebut. Oh, tapi sayangnya tidak ada yang berminat. “Kalian nggak rindu sama aku?!” protesnya karena tak satupun dari aku dan Sharina yang bergembira melihat kehadirannya.

Ilham bekerja sebagai teknisi di colony tiga puluh dua. Ia telah bekerja di luar angkasa sejak lima tahun lalu, tepatnya setelah lulus SMK. Ketika itu, colony tiga puluh dua dan tiga puluh tiga sedang dalam proses finishing.Dia pulang setiap satu bulan dan menetap di rumah selama tiga hari. Berkat Ilham yang bekerja di sana, kami telah mendapat apartemen jauh-jauh hari.

Oh! ngomong-ngomong, aku belum mengenalkan mereka. Sharina dan Ilham adalah kawanku sejak dahulu kala. Kapan? Aku tidak tahu persisnya kapan, tau-tau aku sudah mengenal mereka dan tumbuh bersama. Bukan, bukan saudara sesusu. Kami yatim piatu. Kami bertiga dibesarkan oleh paman Ilham yang ketika itu berumur… tunggu, berapa usianya saat itu? Aku tidak ingat, tapi dia meninggal di umur yang ke tujuh puluh enam tahun. Rumah ini adalah miliknya, diwariskan kepada kami saat ia meninggal. Paman tidak menikah, jadi kami bertigalah anaknya. Ibu dan ayah ilham meninggal dalam kebakaran di saat Ilham sedang menginap di rumah neneknya yang kebetulan dekat. Sharina ditemukan dalam sebuah kotak mi di depan biara dekat rumah paman. Dan aku? Aku diadopsi oleh paman sebelum mereka berdua menjadi bagian dalam keluarga—sebentar kuralat—sebelum Sharina menjadi bagian dari keluarga (Ilham memang keluarga paman sejak awal).By the way,paman meninggal karena sakit jantung.

Setelah paman meninggal, kami bertiga harus mencari pekerjaan sambilan selama dua tahun SMA.

“Kan udah sering video call, tiap hari. Bosen.” Sharina menusuk Ilham tepat di hatinya, di dadanya (kiasan).

“Ya udah, sini cepet makan. Capek 'kan perjalanan ke sini juga. Sharina sengaja nyiapin pagi-pagi biar pas sama waktu lo pulang. Anggep aja pesta penyambutan.”

“Kamu memang paling mengerti aku, sayang…,” goda Ilham seraya berjalan riang ke meja makan.

“Dih, kampret. Ngomong lagi gue tabok lo.”

“Nggak boleh rasis tau, kan kasian temen-temen kita yang gitu,” tutur Ilham sembari menarik kursi dan duduk.

“Temen gue normal semua ye.”

“Hahaha, masih dalam pendirian anti ya sama begituan. Bagus deh, artinya lo belum berubah,” kini Ilham memuji, dengan menyodorkan piring pada Sharina karena nasi jauh darinya.

Aku menggigit bakwan sambil menggerutu, “mana ada orang yang berubah cuma karena nggak ketemu sebulan.”

Selepas sarapan aku segera berbaring di kamar, terlelap hingga siang datang dan kemudian bersiap untuk pergi kerja di hari terakhirku.

Hari ini pekerjaanku tidak lagi menjaga minimarket, melainkan membantu bos mengepaki barang-barangnya sebelum dijemput oleh jasa angkutan barang pindahan colony pukul lima sore ini. Pak Haryo—bosku—dan keluarganya akan berangkat malam ini.

“Rey!” Pak Haryo memanggilku setelah semua barang masuk ke dalam bak mobil pengangkut barang.

Aku segera datang menghampirinya sembari melepas sarung tangan. “Ya, Pak?”

“Ini.” Dia menyodorkan dua amplop cokelat yang gendut. “Gaji terakhirmu, katanya kamu nanti di sana akan mendapat kerja di bagian operator gerbang keluar masuk colony ya?”

“Iya, Pak. Ilham yang masukin, soalnya kata dia sayang saya kuliah bagian IT tapi kerja serabutan, hahaha.”

“Ya, nyari kerja emang udah susah, kok. Bisa dapet duit buat makan saja sudah syukur, nih!” Dia kembali menyerahkan amplop.

Aku lalu menerimanya seraya menundukkan kepala. Aku sangat menghormati Pak Haryo, karena dia adalah orang yang sangat baik tapi juga tegas. Selama aku bekerja rasanya tidak ada keluhan yang berarti. Gaji selalu tepat, dia juga tidak terlalu mengekang atau sebagainya. Yah, aku terus bekerja di minimarketnya kurasa bukan karena memimpikan gaji, tetapi lebih merasa nyaman saja di sini.

Setelah berpamitan juga dengan keluarga Pak Haryo, aku kemudian pulang.

Pukul setengah enam sore, matahari telah bersembunyi di balik gedung-gedung besar yang membagi cahayanya. angkutan umum sudah berhenti beroperasi sejak seminggu yang lalu, ketika kerusuhan terjadi dari pihak-pihak yang tak dapat pergi ke colony, baik karena masalah biaya maupun karena tidak tertera sebagai warga negara. Narapidana yang masih di dalam penjara juga tidak diperbolehkan pergi. Oleh karena situasi tidak aman inilah para tentara dan polisi selalu berjaga di segala titik siang dan malam. Aku harus membawa KTP ke mana-mana. Karena ada beberapa penjaga yang akan memeriksa identitas diri serta barang bawan.

Aku tinggal di bagian pinggir kota, dan di sini hampir tidak terkena dampaknya. Akan tetapi beda halnya jika di pusat kota yang hampir setiap hari terjadi pengeboman atau perampokan disertai pembunuhan kepada warga. Dikarenakan hal itu pula, orang-orang yang akan pergi dengan colony ekspress akan dijemput dan dikawal oleh aparat. Sedangkan para tentara dan polisi akan mendapatkan jadwal penerbangan sendiri, yaitu jam keberangkatan terakhir.

Sepanjang perjalanan aku memandangi sekitar. Entah kenapa rasanya sedikit sedih. ‘Bumi ini sudah rusak, tidak layak lagi untuk dihuni' dan dari perkataan itu mereka membuat proyek penghancuran bumi. Memangnya salah siapa bumi ini rusak? Aku ingin meneriakkan hal itu, tapi tetap saja apa kita manusia yang salah? Atau tuhan yang membiarkan umat manusia terus berkembang biak? Atau ini adalah sebuah fase di mana peradaban harus terus melampaui batas-batas yang ada?

Entahlah.

Jam tanganku berdering. Aku mengambil bagian kecil di sisi kiri jam dan menempelkan benda itu di telinga.

“Halo?”

“Halo, Rey! Kami sebentar lagi mau berangkat,” Pejo menaikkan nada suaranya, sepertinya lumayan ribut di sana.

“Oh, udah di sana? Nggak ada delay?”

“Untungnya nggak ada, cuma ini aja… sebelum masuk stasiun banyak banget tentaranya. Tadi, Adit juga sempet muntah.”

Adit muntah? Masa iya si preman mabuk darat. “Kok? Tumben, biasanya nggak pernah muntah naik mobil.”

“Dia ngeliat tentara bawa potongan tubuh orang gitu… mungkin orang-orang yang berontak,” Pejo memelankan suaranya.

“Lagi pembersihan itu, gue liat ada truk soalnya ngangkut kantong mayat tadi.” Aku bisa mendengar suara Toyib samar.

“Iyalah, nggak mungkin dibiarin tergeletak gitu aja. Yang ada warga pada trauma,” ucapku dengan nada datar tak bersemangat setelah mendengar masalah tersebut.

Saat ini tentara dan polisi menjadi segerombolan orang yang paling dibenci. Mereka memburu, kemudian menangkap warga yang bersikap anarkis atau mengganggu ketenangan baik di jalanan maupun di stasiun. Hari demi hari tindakan warga yang memberontak semakin parah, bahkan ada beberapa kelompok yang adu tembak dengan petugas.

Aksi terus berlanjut hingga terus memakan korban. Dan kadang aku berpikir: bagaimana para petugas menghadapi semua ini? Bukan dengan fisik, tapi mental mereka. Aku mungkin akan segera mengajukan surat pengunduran diri ketika sudah membunuh seseorang dan membawa rasa bersalah seumur hidup hingga menjadi orang yang paling suram di dunia.

“Ya udah ya, udah mau berangkat. Kita mau antri masuk dulu.”

“Oke… hati-hati. Ntar kontak kalo udah sampai.”

“Sip, jaga diri di sana. Titip salam ke Ilham sama Sharina yak!”

“Iye.”

Panggilan berakhir. Aku melepas headset dan menempelkannya kembali di jam tangan. Aspal bergetar ketika tiga mobil besar berlapis baja lewat. Ada beberapa tentara yang duduk di atasnya. Kendaraan tersebut adalah pengangkut barang bawaan Colony Express.

Ilham dan Sharina berdiri di teras, memandangi perginya mobil angkutan. Kemudian mata mereka berguling ke arahku yang kebetulan berjalan di samping kendaraan besar tersebut.

“Udah beres?” tanyaku ketika sudah sampai di depan teras.

“Udah… barang-barang lu yang di samping lemari baju sama kasur aja kan?” Ilham balas bertanya.

“Iya. Kayaknya mereka majuin jadwalnya ya? Soalnya jadwal barang kita di jemput masih setengah jam lagi.” Jika aku melihat ada tiga mobil barusan, maka digabung dengan yang sebelumnya di rumah bosku artinya ada empat mobil, atau masih ada pagi di tempat lain.

“Mungkin biar cepet aja. Soalnya situasi makin nggak beres. Kalo jalannya malem 'kan lebih repot. Tambah udah dua hari ini banyak bom bunuh diri. Masih untung gerbang komplek kita belom dibom,” Sharina menarik napas seraya menggembungkan pipinya.

“Masak apa buat makan malam?” Aku segera mengalihkan pembicaraan. Jika terus membahas keresahan yang ada maka rasa tidak aman dan ketakutan akan menemani kami sepanjang malam ini hingga esok.

“Tumis buncis pake udang yang kecil-kecil itu.”

Udang kecil-kecil? Maksud dia udang rebon? Sharina itu tumbuh menjadi wanita yang cantik, tubuh langsing meski makan banyak… ia hanya punya dua kekurangan: malas membaca dan daya ingat yang lemah.

Selesai makan malam, kami menghambur untuk melakukan kegiatan lain. Sharina video call dengan teman-teman wanitanya yang sudah lebih dahulu ada di colony.Ilham menonton televisi yang isi programnya hanya ada berita. Televisi saat ini hanya melakukan siaran pada pukul enam pagi, dua belas siang, tujuh malam, dan tengah malam. Semua program baik drama hingga talk show tidak lagi ditayangkan karena seluruh stasiun tv dikosongkan dan hanya menyisakan beberapa orang untuk menyampaikan berita.

Aku turut prihatin dengan mereka yang tinggal.

Aku memilih untuk tidak menonton sama Ilham dan lebih tertarik untuk berbaring di lantai kamarku. Properti yang kubawa hanya kasur dan beberapa hiasan, mereka semua sudah diangkut tadi sore. Aku ambil karpet kecil di dalam lemari pakaian. Lemari tidak kubawa karena sudah lapuk, ada juga beberapa baju yang tidak kubawa karena keterbatasan koper. Aku baru sadar bajuku rupanya lumayan banyak.

Setelah menggelar karpet, perhatianku beralih pada sebuah foto di dinding kamar. Satu-satunya bingkai yang masih terpajang. Aku tidak ada rencana untuk membawanya, membiarkan benda itu termakan waktu atau hancur bersama rumah ini saat proyek Terminator berlangsung.

Aku mengambil bingkai itu, memandangnya dalam beberapa detik, kemudian membawanya tiduran di lantai. Aku letakkan bingkai beberapa sentimeter di depan mata, tetap memegangnya agar berdiri tegak.

Di dalamnya ada seorang lelaki yang sedang berpose di samping poster sebuah film—itu aku. Mengenakan kaos merah berkerah hitam, lalu di bagian bawah terbungkus jeans biru dan Chukka Shoes cokelat. Kemudian di seberang kiri ada seorang wanita dengan rambut cokelat sebahu. Kulitnya kuning khas asia, dan tingginya juga sama denganku. Kakinya terlihat jenjang meski ia mengenakan one piece abu-abu hingga lutut. Poni yang menutupi dahi dan lesung pipi yang tercipta dari senyum tulusnya…

Tulus, apa itu benar? Karena melihatnya saat ini cukup menyakitkan. Ah, siapa namanya? Hahaha, mana mungkin aku lupa 'kan? Menyediakan… terlalu menyediakan sampai kelopak mataku menutup paksa, sama sekali tidak bisa kutahan, menuntunku dalam gelap tanpa adanya mimpi.

Pukul empat sore jemputan datang. Bus dikawal oleh empat mobil berisikan pasukan bersenjata lengkap. Sepanjang perjalanan kaca bus diharuskan untuk tetap tertutup. Cahaya hanya terpancar dari layar depan bus yang menampilkan jalan dari ratusan kamera mikro yang terselip di badan bus. Kami seperti sedang dilanda gempa selama satu jam berkeliling menjemput penumpang. Bunyi ledakan sesekali terdengar, sorak-sorak dan teriakan menjadi backsound di beberapa tempat, dan pastinya tembakan begitu sering dilepaskan.

Kami diturunkan pada basement stasiun. Setelahnya semua penumpang harus antri untuk memasuki ruang tunggu yang sebelumnya harus melewati berbagai pemeriksaan baik identitas diri, tiket, serta barang bawaan.

Dan pada akhirnya kami bisa duduk setelah lama mengantri. Dua puluh menit sebelum keberangkatan, dan aku harus buang air kecil.

“Ey, gue ke kamar mandi dulu ya? Ntar di kereta males gerak ke WC.”

“Ya udah cepet, dua puluh menit lagi nih!” Ilham yang orangnya grus-grusu takut akan terlewat berbagai hal dalam hidupnya tampak sedikit kesal.

“Iya! Bawel.” Aku kemudian pamit dan meninggalkan tas sandangku pada mereka.

Tunggu, WC di mana ya? Oh, ada petugas di sana. Aku mendekati petugas berpakaian serba hitam lengkap dengan sarung tangan, sepatu boot, serta helm itu. Oke, bertanya dengan sopan, “permisi, pak. WC di mana ya?”

“Di sana,” balasnya dengan ramah sembari menunjuk celah di bagian pojok kanan ruang tunggu. Ada gang kecil di sana. “Masuk aja, ntar yang sebelah kanan WC cowo,” lanjutnya lagi dengan suara yang serak-serak basah. Aku memperhatikan hal semacam itu bukan berarti homo.

“Oh, makasih, pak!” balasku riang. Ternyata para pria bersenjata ini tidak semenakutkan yang kukira.

Setelah menemukan apa yang kucari, otakku merespon dan segera mendesak agar air urine segera keluar, padahal aku masih bersusah payah untuk membuka kancing celana. Dasar otak sialan.

Dan beberapa detik kemudian tubuhku bergidik lega. Aku baru tahu kalau bahagia itu ternyata simpel.

Seseorang keluar dari pintu WC. Pria paruh baya. Dia melirikku beberapa detik dan kemudian beralih mencuci tangan. Di saat itu aku juga memalingkan pandanganku kembali ke depan, lalu ke bawah memeriksa apa aku sudah selesai dengan urusan gentingku.

Tak begitu lama, suara keran berhenti dan berganti bunyi mesin pengering. Berurutan hingga langkah kaki yang menjauh. Lalu pintu otomatis yang terbuka tutup. Hiuuh! Akhirnya aku sendirian di kamar kecil ini.

Saatnya bersenandung sembari mengancing kembali celana. Berjalan menuju wastafel. Mencuci tangan, membasuh muka, merapikan rambut dan baju, serta membuang cairan di dalam hidung. Bergerak seperti playlist lagu, mengikuti urutan hingga sampai pada tahap melangkah keluar dari kamar kecil. Menunggu pintu otomatis terbuka… menunggu. Kok tidak terbuka?

Aku menekan tombol buka manual berwarna merah di dekat pintu. Tapi tak terjadi apa-apa. Aku melangkah mundur. Dobrak aja mungkin ya? Siapa tau sensornya sedang tidak merespon dengan baik. Tetapi sama saja. Pintu sama sekali enggan bergerak. Oh, sialan! Jangan di saat-saat seperti ini! Kumohon, Tuhan! Maafkan aku yang telah meragukanmu.

Putus asa, aku coba meloncat dan menghempas kakiku di depan pintu berharap untuk yang terakhir kalinya agar pintu terbuka. Namun, yang terjadi justru gempa. Bangunan menggema, lampu kemudian bolak balik redup. Astaga ini bukan ulahku 'kan?! Bangunannya pasti kuat, tidak mungkin hanya karena aku bisa goyah. Ah! Bodo amat, diriku masih terjebak di dalam sini! Jika gempa terjadi, maka situasiku lebih parah karena ruang tunggu ini ada di lantai dua.

Ilham dan Sharina! Aku segera menarik headset. “Hubungi, Ilham.”

“Memanggil Ilham Si Landak.”

Ayo, Ilham… angkat telponnya! Tak diangkat. Aku coba menghubunginya sekali lagi. Setelah beberapa detik, akhirnya tersambung.

“Halo?! Rey! Kau—

Suaranya berhenti sampai di sana. Apa yang terdengar selanjutnya hanya kebisingan: orang-orang berteriak, suara derap kaki, noise yang menyakitkan telinga juga ikut bergabung dalam instrumen yang tak jelas tersebut, hingga pada akhirnya terdengar bunyi seperti kulit kacang yang hancur dan panggilan berhenti.

Sepertinya benar-benar terjadi sesuatu diluar sana. Apa pintu ini juga tidak terbuka karena masalah yang sama? Tapi seharusnya jika dalam situasi darurat semua pintu akan terbuka. Tunggu sirine darurat bahkan belum berbunyi. Bajingan!

Aku menendang pintu dengan segenap perasaan. Tendangan tak berarti karena pintu juga tidak berubah bentuk atau bergerak. Aku putus asa.

Dalam kepasrahanku—apa aku sudah harus pasrah?—jam berdering. Panggilan masuk dari Sharina. Tuhan! Demi apa aku lupa punya nomor dia!

“Halo?! Kalian di mana?”

“Lu yang di mana?! Kami udah dipaksa masuk sama petugas. Yang berontak udah nembus sampai lantai satu katanya. Ada bom bunuh diri juga di gerbang,” Sharina berbicara dengan nada kesal dan cemas.

Mereka sudah mulai naik? Gawat! Kalau aku tertinggal maka tamat sudah. “Gue masih di kamar kecil! Kekunci. Pintunya kaga mau kebuka dari tadi!”

“Astaga serius?” suara Sharina melengking.

“Apa katanya?” suara Ilham terdengar samar.

“Dia masih di WC!”

“Astaga, itu anak! Pak, pak! Temen kami—

“Tunggu di sana, Rey. Kami coba minta tolong sama petugas!”

“O-oke.” Apa masih ada harapan untukku?

Di saat pikiranku terus mengolah kemungkinan-kemungkinan negatif, hal positif datang memotong. Pintu terbuka. Aku segera disuguhi dengan kekacauan yang membuat kaki ini terhenti. Bingung harus melangkah ke mana.

“Pintunya terbuka…,” ucapku pada Sharina spontan karena pikiran yang kosong.

“Lari cepat! Ke Pintu tiga!” Sharina membentak.

Serius? Gimana caranya, lewat mana? Saat ini aku benar-benar ragu. Segerombolan orang menghambur masuk dari pintu. Petugas mulai menembaki, tapi kalah jumlah. Beberapa orang menyerbu dengan tangan kosong. Beberapa mengenakan senjata tajam dan tumpul. Ada yang membawa senjata rakitan dan bahkan bom. Seluruh badanku sampai merinding melihat kejadian mengerikan ini.

“Tutup pintu masuk! Berangkat sekarang!” seorang petugas berterak, lalu tak lama kemudian ia dibacok, dikerumuni dan dipijak-pijak… aku tidak mau lihat kelanjutannya.

Pintu ketiga ditutup sebelum semua penumpang masuk. Teriakan dan tangisan mulai mengisi instrumen mengerikan di stasiun.

Seorang menabrakku. Membuat headset yang kukenakan copot dan jatuh entah ke mana. Tak berselang lama seseorang menarikku, aku langsung berontak takut ikut dibacok. Namun, rupanya dia si petugas. Dia menarikku sembari mengawasi sekitar. Menghindari rakyat yang ingin menguliti dirinya.

“Lari ke dekat pintu ketiga, kami akan melindungi kalian sebisa mungkin hingga ada kepastian bagaimana tindakan selanjutnya!” Dia adalah pria yang tadi. Petugas yang menunjukkan arah ke kamar kecil.

Aku menurutinya dan berjalan beriringan dengan sang petugas. Namun, langkahnya terhenti setelah mendengar seseorang berteriak dan melompat ke arah gerbang tiga. Lelaki itu ditembak dan lumpuh, tapi kemudian tubuhnya meledak. Ledakan yang besar hingga lantai runtuh. Tangan petugas terlepas dari kerah bajuku. Ia terjatuh lebih dahulu. Jantungku berdegup kencang. Langit-langit menjauh, tubuhku seperti tertelan ke dalam lubang tak berujung, rasa takut menyelimuti setiap pori-pori di kulit. Aku ingin menangis.


Pervouse                                                                                                                              Next

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nol Persen