Daftar Light Novel

  Nol Persen Noir ----------------------------------------------------------------------------- Update   Kamis Noir Sabtu Nol Persen (Ongoing)

Nol Persen Bab 2 File 3

Kalian pernah mendengar kisah tentang seorang gadis yang tinggal di atas menara? Rambutnya panjang dan berkilau seperti emas. Udara segar dari hutan menjaga kulitnya tetap bening dan halus. Dia juga selalu makan makanan tradisional, langsung diambil dari hutan. Kalau ingin ikan maka ibunya akan menangkap ikan di sungai dekat air terjun, jika ingin daging ibunya tinggal berburu kelinci atau rusa, apalagi sayuran dan buah. Mereka kaya, kaya dengan alam dan hal yang perlu dilakukan oleh sang gadis hanya menuruti setiap kata dari sang ibu.

Rapunzel. Nama lukisan itu adalah Rapunzel yang kulihat di pameran lukisan klasik. Meski hanya sebuah hologram yang terpancar dari muka dinding, tapi keelokan Rapunzel tetap membiusku, aku yang kala itu seorang anak bawang; Itu lho, yang diajak main, tapi juga tidak dianggap. Ketika sanak-saudara datang kerumah dan bermain, aku selalu jadi anak bawang. Melihat keasikan mereka, aku berbisik pada diriku sendiri, suatu saat aku akan tumbuh sebesar mereka. Aku akan bermain, bermain sepuasnya! Menemukan teman-temanku sendiri yang bahkan seribu kali lebih baik dari kalian. Yang terpenting mereka akan menganggapku benar-benar ada dalam permainan.

Karena ini adalah pameran umum, jadi semua orang bisa datang. Gratis pula. Tapi karena gratis dan dibuka bagi semua pihak, ada beberapa karya seni yang ditampilkan hanya dalam bentuk hologram. Biasanya karya seni tua yang bernilai triliunan, atau yang sudah rapuh. Tapi tak masalah, asli dan hologram hampir sama detailnya. Bedanya cuma tidak bisa disentuh (memang itu tujuannya).

“Tapi suatu hari, pangeran ini,” tunjuk Pakde Dani pada seorang lelaki berkuda dengan perlengkapan besi yang terlihat menyiksa kuda destrier tersebut. “Ia datang menjemput Rapunzel,” lanjut Pakde Dani layaknya sedang mendongeng. Dia lebih pemandu daripada pemandu pameran, Pakde tahu setiap detail ceritanya sehingga bisa terbayang dengan jelas olehku. 

Dia hampir menjelaskan seluruh karya seni yang terpajang di pameran. Aku tidak perlu desak-desakan dengan orang lain, cukup berada di sebelah Pakde dan dia mulai mendongeng. Hampir semuanya tidak kuingat, hanya beberapa diantaranya: lukisan Leviathan, yang kemudian ia sambungkan dengan cocok loginya sendiri kalau monster itu adalah ikan besar yang memakan nabi Yunus. Ada Monalisa yang waktu itu salah kutanggap menjadi Manalisa, kalian pernah lihat lukisan Manalisa? Hah? Manalisa? Pasti tentang seorang ibu yang sedang mencari anaknya bernama Lisa, ya? Lalu ada Intelligence karya Raphael Adams, nah yang ini bukan hologram. Intelligence adalah lukisan timbul yang menggambarkan era baru dalam peradaban manusia… oh, sepertinya aku membawa kalian terlalu jauh. Fokus kita hanya pada lukisan Rapunzel. Maaf…

Di umur enam tahun aku pertama kali melihat lukisan Rapunzel, Pakde membawaku kabur dari acara kumpul keluarga. Katanya di pameran lebih asik. Lukisan penuh warna itu menjadi tolok ukurku, suatu saat nanti aku akan membuat sebuah lukisan seperti Rapunzel yang tidak hanya memikat hati tapi juga memiliki cerita yang menarik dan dapat bertahan hingga ratusan tahun lamanya.

Mimpiku menjadi seorang gadis besar akhirnya tercapai. Namun, misiku untuk “menemukan teman-teman atau belajar melukis”, yang pernah jadi cita-cita tak kesampaian. Tiap harinya aku mendekam di dalam rumah tanpa ada namanya kehangatan keluarga maupun makhluk yang kubisa ajak bicara kecuali bibi, itu juga kalau lapar. Membuatku mencicipi derita Rapunzel secara nyata. Hingga membangun dunia baru, dunia dalam lukisan. Rumah ini adalah menara, otak adalah rambut emas, ibuku memang nenek sihir, dan Pakde adalah si kesatria.

Lukisan tersebut lalu datang padaku, seperti memperjelas bahwa ia memanglah refleksi dari Fira Permatasari. Rapunzel ternyata lukisan yang dibuat oleh nenek moyangku, Pakde yang saat itu memegang hak kepemilikannya, mewariskan mahakarya tersebut padaku. Tertulis dengan jelas di dalam surat wasiat.

Aku ingat dengan jelas hari itu. Semester pertama di SMP. Indonesia hanya punya dua musim dan aku yakin saat itu sedang kemarau meski udaranya dingin (tidak ada hujan hampir satu bulan kalau tidak salah). Pembantuku bi Atik mengetuk pintu kamar, dan saat masuk wajahnya seperti baru kena PHK. 

“Non, Pakdemu meninggal. Tadi pagi dia dirampok, rampoknya bawa pistol dan nembak Pakde.” 

JEDAR! Kalian pernah melihat secara langsung seekor naga? Terbang di atas perumahan. Rasanya aneh bukan? Ada yang salah, pasti ada yang salah. Tidak disangka, seperti mimpi buruk saat terkena demam tinggi. Perasaan asing itu hinggap dan membuatku kehilangan akal sehat. “Apa?” otakku menolak untuk mengolah kata yang diucapkan bi Atik.

“Pakdemu, pakde Dani!”

“Iya?”

“Astaga, Non. Pakde Dani meninggal.”

“Kenapa bisa?”

“Kena tembak pas dirampok.”

“...”

“Ibuk sama Bapak lagi jalan pulang. Non siap-siap cepat, biar langsung pergi—

“Kemana?” 

“Melihat Pakdemu, di rumah sakit…,” bi Atik memelankan suaranya. Ia kemudian membuang pandangannya tak berani menatap wajahku.

“Kenapa?”

Seluruh ruangan jadi kabur. Dinding air pecah, mengalir melewati pipiku. Air pelepukku semakin lama semakin deras. Bi Atik berlari dan mendekapku erat. Kubenamkan kepala di tubuh bi Atik, lalu mulai meraung.

Pakde mencurangiku. Dia seharusnya menjadi figur kesatria yang datang meminta Rapunzel untuk menurunkan rambutnya. Membantu untuk menemukan duniaku sendiri. Dunia di mana aku bisa lari ke sana-kemari menikmati lembabnya rerumputan, merasakan segarnya air sungai yang mengalir. Duduk di atas tebing sembari menyaksikan matahari terbenam. Namun dia meninggalkan tugasnya. Menancapkan padang perak di depan menara, mengisyaratkan dia sudah menyerah serta ini adalah perpisahan. Fira si gadis baru remaja benci Pakde… sangat, sangat, sangat membencinya.

Mungkin memang seperti itu akhir dari cerita Rapunzel yang sesungguhnya. Tidak ada manusia fana yang begitu naif untuk berani melawan penyihir keji.

Hari demi hari berlalu. Aku menjalani SMP sesuai aturan si penyihir. Belajar, belajar, dan belajar. Mengikuti berbagai les online. Menumbuhkan kekuatan ajaibku, yang menjadi satu-satunya jembatan bagi orang luar untuk berinteraksi. Jika Rapunzel memiliki rambut emasnya yang penuh dengan keajaiban, maka aku punya otak yang melebihi kapasitas anak seumurku saat itu.

Hanya dengan meminjamkan kekuatanku teman-teman di sekolah akan mengajakku berbincang, kendati hanya sebagai alat belaka. Tak masalah, karena memang itu tujuanku diciptakan; manusia yang diciptakan oleh penyihir untuk mengalahkan super artificial intelligence.

Dan karena itu aku juga tahu, dari tujuh milyar orang di dunia, ada ribuan peluang untuk seseorang datang dan berteriak memintaku menurunkan rambut dari jendela kecil tersebut. Asa itu yang memaksa diriku terus menatapi lukisan Rapunzel setiap pagi, membuatku masih cukup tegar untuk tidak mengakhiri hidup atau kabur supaya jadi gelandangan. Aku juga berdoa kepada yang maha kuasa, agar suatu saat nanti bisa keluar dari tempat terkutuk ini.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nol Persen