File 4
Ternyata Mai cukup ringan. Kira-kira berapa ya beratnya? 45? Atau lebih? Bisa juga kurang. Tapi dia benar-benar seperti kapas. Seharusnya saat membopong orang yang tidak sadarkan diri akan lebih berat daripada saat dia sadar.
Aku penasaran, apa Sharina juga seringan ini. Mungkin tidak beda jauh? Karena dia selalu menjaga pola makanan dan rajin berolahraga.
Olahraga kah, oh… aku selalu ingin melakukan sit up juga push up setiap enam menit dalam sehari. Tapi sampai tadi pagi barang sedetikpun tak pernah kulakukan.
Aku telah berjalan cukup jauh. Tidak ada arah tujuan yang pasti—ada sih, aku mau ke hotel bandara—karena aku juga tidak tahu apa ini jalan yang benar atau bukan.
Begitu sepi dan sunyi. Persis seperti kota mati.
Jika situasi sudah seperti ini… sepertinya mustahil untuk melakukan olahraga enam menit setiap pagi.
Selagi kakiku melangkah, pikiranku melayang-layang, mencari bahan untuk dibicarakan pada diri sendiri. Dan kemudian aku sadar tubuh ini sudah bau keringat. Kuharap Mai tidak terganggu dengan bau badanku. Eh, orang pingsan bisa nyium bau juga tidak ya?
Meski Mai ringan, tapi aku ingin sekali meluruskan pinggangku, rasanya pegal sekali seperti mau patah. Dan luka di bahuku juga sangat mengganggu, sepertinya perbanku rusak, soalnya ada darah yang keluar dan mengalir dilenganku. Tulang kering dan telapak kaki juga mulai nyeri.
Satu hari yang luar biasa melelahkan dibandingkan berkemah dalam kegiatan Pramuka selama tiga hari.
Dan kuharap ini arah yang benar. Atau aku hanya akan berjalan tanpa akhir.
Tapi, rasanya kayak deja vu. Pertemuan pertamaku dengan wanita itu juga seperti ini. Kalau tidak salah awal November, ya waktu itu… turun salju untuk pertama kalinya.
Dua belas tahun lalu, aku bertemu dengan Fira. Wanita yang begitu mirip dengan Mai. Kala itu hari sabtu kami berbeda dari yang biasanya. Jika setiap akhir pekan kami melakukan senam di gedung olahraga pada pagi hari, maka saat itu berbeda.
Tidak ada kegiatan khusus. Udara begitu dingin, murid-murid mengenakan pakaian yang berlapis-lapis sangking dinginnya—bahkan kolam berenang kami juga membeku.
Coba tebak, di mana tempat wisata paling menyenangkan hari itu? ~ Kolam renang. Kali ini bukan karena banyak wanita yang mengenakan baju renang, ya tentu tidak. Kolam yang membeku ada di level yang berbeda.
“Ayo, berani nggak?”
Kira-kira begitu dialog pertama perdebatan para gadis saat itu. Menantang siapa yang berani jalan di atas air—air beku maksudnya.
Orang yang sedang ditantang tidak lain adalah Fira. Dia berada di tingkat ketiga. Si juara umum dua tahun ajaran berturut-turut. Cantik bak anyaman kursi rotan klasik …. Rasanya kurang tepat. Ya, tapi begitulah intinya.
Dia punya segalanya. Dan kita tahu apa yang terjadi pada seorang wanita yang hampir sempurna seperti dewi: selalu saja ada iblis-iblis utusan neraka jahanam yang mencari celah untuk menjatuhkannya.
Setidaknya ada lebih dari empat puluh orang di sana. Artinya ada empat puluh hakim nasional. Ah, atau kurang? Karena aku yakin para pria yang hadir hanya ingin menyaksikan kehebohan dan tak ikut menjadi netizen. Kuharap.
Dulu aku berpikir kenapa wanita sepintar Fira mau menuruti tantangan para gadis itu. Sekarang aku tahu. Jika saja pemikiranku sedewasa kini.
Fira ketika itu berjalan perlahan. Kaki-kaki kurusnya bergeser di atas air beku. Tapak sepatu hitamnya mengikis tumpukan salju putih yang melapisi kolam. Kemudian beranjak ke kaki selanjutnya. Pelan namun pasti. Fira benar-benar berdiri di atas kolam.
Semua orang khusuk menyaksikan. Sebagian mungkin berharap es sudah membeku cukup tebal sehingga bisa menahan berat badan Fira. Dan sebagai lagi—mungkin—merapalkan doa berisi kebencian.
Langkah ketiga masih aman, begitu pula selanjutnya. Aku seperti sedang menonton sirkus waktu itu.
krek! Penonton histeris.
“Fir! Udah, balik!”
“Hati-hati, kepinggir lagi pelan-pelan.”
Aku tahu Fira tidak sebodoh itu, tidak perlu kalian suruh dia juga pasti berpikir demikian. Berbicara memang lebih mudah, tapi coba saja gerakkan kaki sekali lagi kalau mau jadi mayat beku.
Aku tentunya juga penasaran saat itu hingga menerobos kerumunan demi mendapatkan kursi VIP untuk menyaksikan ketegangan ini.
Beberapa detik setelah aku tiba di tepian kolam. Fira coba melangkah. Menimbulkan suara retakan yang kedua.
Wajahnya terlihat pucat. Mengisyaratkan bahwa semuanya sudah berakhir. Kemudian di sela detik terakhir waktu terasa begitu lambat. Aku bisa mengingat dengan jelas detail wajahnya : bibirnya yang tipis, tahi lalat di bawah kelopak mata kiri dan dagunya. Rambutnya tertutup tudung jaket, tapi aku bisa melihat poni cokelatnya dengan jelas menutupi jidat. Dan yang paling memukau, mata coklatnya yang bertemu dengan mataku.
Kami bertatapan dalam hitungan detik, tapi terasa seperti puluhan menit.
Suara retakan layaknya batang kayu yang patah terdengar nyaring.
Byur! Fira masuk ke dalam kolam. Dan benar, aku segera berlari dan melompat ke dalam air. Jangan tanya kenapa, jangan tanya apa alasannya, karena aku sejujurnya sampai sekarang juga tidak tahu kenapa aku bisa melakukan hal itu? Apa sebenarnya yang aku pikirkan? Padahal aku bisa saja diam dan menyaksikan. Pasti ada orang lain yang akan menolong.
Takdir? Hidup memang penuh kejutan, bahkan hingga saat ini.
Ah, bahuku semakin sakit.
Pucuk dicinta ulam pun tiba. Akhirnya keraguanku sirnah. Ini jalan yang benar. Ada gedung setidaknya seratus meter lagi di depanku. Ada beberapa kendaraan terparkir dan sekumpulan kecil orang.
Ini terdengar egois tapi lega rasanya ternyata di negara ini juga ada orang yang bernasib sama. Aku senang melihat orang-orang yang tertinggal.
Rasa lega ini menjadi kelemahan bagiku. Tubuh ini rasanya semakin lemas hingga untuk menggotong Mai yang tidak berat saja tidak kuat. Kedua kakiku bergetar, saat hendak melangkah rasanya begitu lemas hingga aku terjatuh. Ah, seharusnya aku tidak boleh merasa lega sampai tiba di keramaian sana.
Sial, bahkan pandanganku mulai gelap.
Desember 2384
Hari sabtu, hari yang didedikasikan untuk mengasah minat dan bakat para siswa. Jadwal sekolah hanya sampai pukul sebelas siang.
SMP-ku menawarkan berbagai kegiatan: mulai dari paskibra, sepak bola, volly, bahkan anggar. Ada juga kegiatan akademis seperti matematika dan bahasa Inggris. Tapi yah, meski banyak pilihan. Tak ada satupun yang menarik bagiku.
“Aw, panas!”
Ilham membawa dua
cup mi instan panas. Aku bisa meraba aroma nyelekit lada serta bawang yang kuat. Baunya begitu menggoda dan membuatku merinding dari ujung kaki hingga kepala.
“Saos mana?”
“Oh iya. Lupa,” desah Ilham sembari menepuk jidatnya.
Aku segera beranjak mengambil saus. Karena ujung-ujungnya dia juga pasti akan memintaku. Kalau sudah duduk—apalagi otak ingin cepat-cepat menyantap makanan yang sudah terhidang—pasti bakal males banget rasanya untuk tegak lagi.
“Terimakasih, kisanak.” Ilham segera menaburkan saus di atas mi ayam bawangnya.
“Tidak perlu sungkan,” balasku dengan nada bak pelayan kerjaan dalam budaya kuno.
Mi kuaduk, lalu setelahnya kugulung di garpu dan menariknya. Kelihatan masih begitu panas jadi kutiup beberapa kali. Berbeda dengan Ilham yang makan tanpa peduli panas atau tidak. Dia sama seperti paman, kurasa lidah mereka berdua begitu tebal sampai tak terbakar.
Dengan sedikit ragu kumasukkan mi ke dalam mulut. Aw! Panas. Ah, sial lidahku melepuh, bisa-bisa aku makan tanpa rasa selama dua hari.
“Ngomong-ngomong, Rey,” Ilham berbicara dengan mulut yang penuh.
“Itu ….” Kata-kata selanjutnya tidak jelas.
“Ngomong jangan sambil makan.”
Dia lalu memberi isyarat tunggu dengan tangannya.
“Kak Fira, lu nggak ada ketemu lagi sama doi?” suaranya hilang ketika ia menyeruput kuah mi.
Aku menggelengkan kepala. “Enggak. Kalau sekedar liat sering sih.” Akhirnya aku menyuap sendok pertama mi.
“Sayang banget. Padahal kesempatan bagus buat deketin. Dia tahu lu yang nyemplung buat nolong dia?”
Sudah pasti tahu. Ini bukan kejadian kecil seperti membocorkan bola voli milik sekolah yang hanya akan berurusan dengan pak Sudianto si guru olahraga. Aku menyelamatkan wanita paling dipuja se antariksa. Kadang saat melewati gerbang sekolah atau pulang aku bisa mendengar beberapa orang menggosipkanku. Seperti: 'itu, Rey kan?’ atau 'eh itu yang nolongin Fira kemaren’.
Intinya aku kebagian percikan tenarnya Fira.
Tapi orang yang ditolong justru
masa bodo. Jangankan mengucapkan kata terimakasih, melirikku saja tidak. Dia hanya tegak dan berjalan seperti tembok.
“Woi! Pak Sudianto datang!”
Tepat saat aku hendak memasukkan suapan kedua. Kiamat sugro datang. Aku terperanjat. Kuah mi tumpah.
“Anjing! Panas bangsat!” Minya ikut jatuh. Kalau saja tidak sedang dalam keadaan genting, panasnya kuah mi pasti sudah membuatku menggelepar seperti ikan di tengah aspal.
Ah, sarapanku. Dasar …. Ah! Aku tidak punya waktu untuk meratapi makanan. Semua murid yang sedang bersantai berhamburan tunggang langgang. Ilham juga sudah hilang entah kemana. Setan.
Pak Sudianto itu guru olahraga—seperti yang kukatakan sebelumnya—dan juga tukang razia. Dia polisinya sekolah. Mulai dari rambut sampai sepatu adalah urusannya. Begitu pula dengan siswa-siswi yang tidak mengambil ekstrakurikuler dan malah santai di belakang bangunan sekolah; seperti kami ini.
Kalau tertangkap habis sudah.
Aku lari secepat yang kubisa. Tapi bukan tanpa tujuan. Aku terdaftar dalam satu ekstrakurikuler, dan ke sana aku berlari. Di mana? Ah itu dia, di ujung lorong! Cepat, lari lebih cepat. Kenapa rasanya lama sekali!
Aku tidak tahu apa pak Sudianto ada di ujung lorong satunya, dan sedang mengejarku atau tidak, tapi yang jelas jantungku sudah berdebar-debar untuk sampai ke kelas tersebut. Tak pernah disangka aku akan mendabakan pelajaran matematika seperti saat ini.
Tanpa pikir panjang, aku langsung menerobos masuk saat tiba di depan pintu kelas. Kumohon, semoga dia tidak mengikuti, semoga dia tidak mengikuti, semoga dia tidak mengikuti… sangking paniknya aku lupa sedang berada di mana.
Satu kelas memperhatikanku. Aku yakin jumlah mereka lebih dari tiga puluh orang. Tadinya sedang belajar, mendengar penjelasan secara seksama, atau mengerjakan latihan yang diberikan dengan konsentrasi tinggi. Lalu tebak siapa yang menambahkan sedikit humor di antara orang-orang kutu buku bermuka datar ini.
Ada keheningan dalam beberapa detik yang kemudian membuatku sadar untuk meminta maaf dan memberikan salam.
“Ah, permisi buk. Maaf telat,” aku tersipu sembari menundukkan kepala, “tadi makan sebentar soalnya belum sarapan dari rumah.”
Wanita paruh baya yang berdiri dekat papan tulis itu lalu tersenyum lebar sembari mengeleng. Dia menunjuk celanaku dan berkata, “iya tau kok. Itu bekas minya masih ada di celana kamu.”
Gelak tawa mengisi kelas. Aku mencoba tetap tenang sambil menahan malu.
“Udah, cepet cari bangku kosong,” perintah bu Ratih di sela-sela keributan.
Aku menyandang tas ke depan dan segera mengambil langkah sembari melihat di mana bangku yang kosong. Ah, ada satu. Di samping... Fira? Dia ikut ekskul ini? Tunggu, kenapa juga aku bertanya? orang terpintar di sekolah sudah pasti 'kan ikut ekskul matematika.
Aku berjalan secepat yang kubisa agar tidak jadi parasit lebih lama. Fira melirikku. Tentu aku balas dengan senyum ramah. Aku duduk perlahan, kemudian menggeser kursi sedikit lebih jauh, jaga-jaga kalau Fira tidak nyaman dengan kehadiran pelawak dadakan ini.
“Oke, kita lanjut lagi ya.”
Bu Ratih kembali pada kegiatan ajar mengajar. Aku mencari buku kosong, sepertinya dulu pernah aku siapkan untuk ekstrakulikuler ini. Tetapi terlalu banyak buku! Ah Tuhan, Rey kenapa kau jadi orang yang hidupnya amburadul begini?! Pada akhirnya aku tidak menemukan satupun buku kosong, jadi kujatuhkan pilihan pada buku orat-oret bersampul kertas padi. Halaman pertama berisikan rumus kimia, halaman kedua dan tiga berisi gambar, halaman empat juga lima berisi kartun
stickman yang sedang bertempur. Lalu ada catatan kecil… apa ini? Bahasa Indonesia atau sejarah?
“Baiklah, kumpulkan latihan kalian, waktunya sudah habis. Kecuali untuk, Rey. Karena kamu baru masuk jadi ikut yang selanjutnya saja. Minta catatan sama temennya buat materi yang sudah-sudah.”
Aku mengangguk tanpa kata-kata, tapi berteriak dalam hati untuk keberuntunganku saat ini.
Dua orang beranjak dari kursi dan mengumpulkan buku latihan. Sebentar lagi bu Ratih akan mengoreksi latihan para murid, artinya ada waktu senggang. Biasanya saat seperti itu kugunakan untuk berbincang dengan Ilham, sayangnya saat ini orang yang duduk di sebelahku bukan si rambut landak.
“Ini. Masih ada waktu buat materi berikutnya, kenapa tidak catat saja punyaku dulu.” Fira tanpa diduga berbicara. Dia
lho yang membuka percakapan, Fira si matahari dari ekosistem tata surya SMP se Jakarta.
“Ah, iya. Makasih. Bagian mana yang dicatat?”
“Ini, yang terakhir. Selebihnya lain waktu saja, nanti bawa pulang. Sementara yang ini dulu.”
“Nggak masalah gue bawa pulang?”
“Tidak maslahah. kamu memang ikut ekskul ini kan?”
“Iya sih.”
“Nanti bisa kamu kembalikan minggu depan.” Fira berbicara dengan bahasa yang begitu sopan sampai aneh aku mendengarnya. Ini pergaulanku yang memang kurang baik atau wanita ini memang dididik sedemikian rupa bak putri dalam dongeng paman?
Aku mulai menyalin angka—cos, tan, sin, x—hal yang tidak aku pahami. “Maaf, kak. Bisa sekalian jelasin nggak? Kalau dicatat doang gue nggak paham juga.”
Loh? Datang dari mana iktikad untuk mencerna ilmu ini! Lihat, Fira saja sampai tertegun mendengar permintaanku.
“B-boleh…,” balasnya dengan ragu.
Dan dimulailah interaksi yang membuatku bersemangat serta merasa aneh ini. Bersyukur rasanya bisa sedikit memahami matematika.
Tapi entah kenapa rasanya ini bukan yang pertama. Rasanya seperti… Berada dalam sebuah kenangan.
Kenangan, kata itu merayap di dalam kepalaku seperti bakteri jahat dan mulai menggerogoti urat-urat. Membuat kepalaku gatal, sangat gatal. Seisi kelas seketika membeku, cahaya yang terefleksi mulai menari-nari. Seketika semuanya menjadi gelap, aku bisa mendengar deru air, rasanya seperti tenggelam. Dari dalam gelap aku bisa merasakan sukmaku jatuh ke dalam jurang tak berujung layaknya ditarik oleh dasar laut yang kelam.
Aku harus kembali, ragaku, di mana ragaku? Aku tak bisa melihat barang satu pixel putih dalam warna hitam ini, tapi aku tahu kalau tubuhku di atas sana. Entah atas yang mana, tapi aku harus segera terbang, aku harus naik dan kembali ke ragaku.
Sial! Jantungku rasanya sakit dan memompa darah begitu kencang, menuju titik maksimal dan mungkin akan meledak. Tapi aku bergerak naik! Sesuatu mendorongku mencari permukaan. Ragaku memyentak jiwa, jantungku melonjak tetapi tidak meledak. Aku masih hidup.
Kelopak mata rasanya berat, aku hampir tak bisa melihat dengan jelas. Ingatanku tentang segala yang terjadi menyusut hampir tak dapat mengingat sebagian besarnya. Aku melupakan hal-hal kecil yang terjadi, mengingat hanya pada akhirnya aku duduk di samping Fira; wanita paling kubenci dan ingatan tentang dia selalu menempel layaknya dosa dari para nenek moyang. Hatiku penuh dengan kemuakan terhadapnya.
Selagi pupil menyesuaikan cahaya yang masuk, kukedipkan berkali-kali mata ini dan berharap bayangan kabur cepat lenyap. Aku butuh bantuan tangan untuk menggosok air mata yang mengering pada kelopak mataku. Tanganku membentur sesuatu, kaca. Kemudian aku mendengar suara angin dipres. Suasana yang tadinya redup kini menjadi silau. Suhu udara berubah, aku merasa lebih sejuk tapi tidak lebih dingin, membuatku tak kepengapan dan bisa bernapas dengan leluasa.
Aku berada di kapsul pengobatan.
Aku mencoba bangkit, tapi tubuhku menjerit nyeri. Mulai dari persendian kaki, naik ke paha, pinggangku hingga leher. Terlebih bahu kiri yang kusadari sebelumnya terluka.
Fakta aku mengalami semua kejadian buruk itu nyata, bukan bagian dari mimpi. Kiamat… Mai!
“Mai—
Tenggorokanku, rasanya, serak dan sakit, tolong, siapa saja, bawakan aku air!
Previous
Next
Omg rey :')
BalasHapusjangan ditiru, diamah orangnya liar
Hapus