Limbo
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Bagaimana cara menjelaskannya… perasaan saat pertama kali lahir ke dunia. Aku tidak pernah ingat, atau memang tidak pernah tahu rasanya seperti apa? Bangun—bangun? Apa itu bangun? Kata itu yang pertama keluar di pikiranku saat pertama kali membuka mata. Aneh, semuanya sungguh aneh. Kata-kata ini, istilah-istilah yang terus menerus keluar di dalam otakku; melihat, mencium, merasa, bernapas, hidup, dan berpikir. Apa ini semua? Kenapa aku bisa tahu segala hal ini?
Aku? siapa Aku, Aku adalah… Aku? Manusia? Hewan? Tumbuhan? Begitu banyak hal, hingga pada akhirnya semua menghilang, dan yang tersisa hanya rasa ngeri, gelisah, dan tidak nyaman. Rasanya hendak meringkuk dan kembali tidur, jadi aku tidak perlu memikirkan semua ini.
Haruskah aku kembali tidur? Dari luar goa yang banyak dirambati akar ini, aku bisa melihat langit gelap dari sela-sela pepohonan. Rasanya tidak pernah aku bertemu pagi atau siang mau seberapa banyak aku tidur untuk membuang waktu. Atau kali ini aku harus tetap terjaga? Agar bisa melihat pergantian hari.
Banyak hal yang ingin kumengerti, tapi juga enggan untuk dipikirkan—karena untuk apa? Aku tidak harus. Aku bahkan bingung kenapa bisa "ada", bergerak dan memiliki pikiran tanpa ingatan dasar untuk menggali semua hal yang terpikir.
Rasanya aku ingin tidur kembali, agar semua hal ini bisa hilang untuk sementara.
Haaah… tidak, semua gambaran abu-abu ini harus bisa kulihat dengan jelas. Pejamkan mata, pusatkan perhatian hanya pada satu hal, beranjak dari tempat ini dan cari sesuatu, sesuatu yang bisa menjawab semua ini.
Aku berjalan perlahan, sedikit meraba-raba karena tanah dipenuhi rambatan akar. Untuk keluar dari mulut goa aku harus menoleh ke samping, karena sepertinya aku punya tanduk.
Setelah keluar aku bisa merasakan hembusan angin yang lebih kuat dari pada di dalam goa. Bak menyambut aku yang akhirnya mau keluar dari zona nyaman, hutan bersorak-sorak dengan suara gesekan dedaunan.
Meski terlihat seperti hutan dengan ribuan pohon, tapi tidak ada semak belukar di antara pepohonan ini. Kakiku berpijak di atas rumput yang hanya sampai setinggi mata kaki. Walau aku tak bisa melihat begitu jauh, tapi sepertinya semua rumput punya rata-rata tinggi yang sama.
Sembari melihat dedaunan hijau bercampur coklat kering yang rontok digoyang angin, aku kini bisa melihat langit dengan cukup jelas, bersembunyi di balik awan kelabu. Merah seperti terbakar api.
Selama aku berjalan tidak ada bunyi selain angin dan gesekan daun. Tak ada gonggongan apalagi cuitan jangkrik. Pepohonan tersusun rapi, menyuguhkan aku jalan lurus tanpa hambatan. Tanah datar tanpa ada tanjakan dan turunan. Aku mulai berpikir kalau tempat ini bukan hutan. Lebih seperti taman yang besar dengan ribuan jenis pohon. Aneh, padahal aku sendiri harusnya tidak tahu hutan itu persisnya seperti apa.
Semakin jauh aku berjalan, jumlah pohon juga semakin sedikit. Rumput juga semakin jarang dan aku bisa melihat sejumlah bebatuan… sampai akhirnya medan berganti dari tanah menjadi batu dan kerikil, rumput mulai hilang hanya ada beberapa yang mencuat tapi layu, pepohonan bisa dihitung jari dan semuanya terlihat mati.
Pada akhirnya aku keluar dari hutan. Berdiri di daratan tandus berkabut. Kini aku bisa melihat bulan: ia berwarna hitam dengan cuatan garis merah di atas, bawah, kiri, dan kanan. Letaknya hampir sejajar dengan jarak pandangku. Seperti sedang mengundangku untuk menghampirinya.
"Memilukan ya? Seperti alam tanpa harapan." Aku segera menoleh, baru tahu kalau ada orang lain di sini.
Yang bicara padaku adalah… Apa dia ini? Aku tidak pernah melihat makhluk sepertinya—ya, maksudku memang… ah bagaimana menjelaskannya? Yang penting di dalam kepalaku tidak pernah tahu ada yang seperti ini.
Kepalanya sedikit lonjong, tidak punya mata dan hanya ada lubang di muka. Tidak punya mulut, hanya tentakel? Tentakel juga bukan. Dia tidak punya tangan atau kaki, mengambang di udara dengan bagian tubuh lainnya yang tidak aku pahami.
Apa benar dia yang berbicara barusan?
"Kenapa? Kau tak bisa bicara?" Wah benar, makhluk ini bisa bicara.
"Maaf, hanya ragu. Aku tidak pernah tahu ada makhluk seperti kau."
"Wah kasar sekali. Kalau begitu kau juga aneh, aku belum pernah melihat yang sepertimu. Hitam tanpa wajah bahkan mulut, bagaimana kau bisa makan?" balasnya dengan suara yang gemetaran dan ada dengkuran seperti kucing.
Apa aku baru saja membuatnya marah? Tapi dari nada bicaranya sepertinya tidak. Tapi memang salahku sih, sebaiknya minta maaf saja karena aku tidak tahu makhluk seperti apa dia. Tapi tunggu, aku tidak punya mulut?! Tidak ada wajah?! Aku segera meraba kepalaku dan benar, datar! Tapi tunggu, dia menghakimiku seperti itu padahal bentuknya sendiri juga tidak jelas, memangnya bolongan di kepalanya itu bisa disebut muka?
"Haha, sepertinya kau juga tidak sadar dengan bentukmu sendiri. Padahal sudah cukup lama kau hidup di sini."
"Sudah lama? Kau tahu aku?"
"Tidak. Kita baru bertemu sekarang."
"Lalu kau tahu dari mana aku sudah lama ada di sini?"
"Itu mudah. Setiap ada yang lahir. maka pulau baru akan terbentuk. Tempat ini ada sudah cukup lama, sejak shaweri masih di atas."
"Shaweri?"
"Iya, benda bundar pilu yang tadi kau tatap."
Benda bundar pilu? Maksudnya yang terlihat seperti bulan hitam itu? "Maksudmu bulan?" Sembari kutunjuk objek yang menggantung di langit tersebut.
"Bulan? Apa itu bulan? Oh, di duniamu itu namanya bulan ya? Kalau di tempatku namanya Shaweri."
Haaah, petaka! Apalagi ini? Belum satu pun pertanyaanku terjawab malah muncul aspek baru yang kali ini benar-benar tidak ada di dalam kepala.
"Kau bilang aku lahir? Siapa yang melahirkan?"
Orang itu mendengkur lebih keras, "kau lahir seorang diri. Datang dari ketidak adaan menjadi ada. Tidak dilahirkan dan tidak akan bisa melahirkan. Kenapa diam? Penjelasanku sulit dipahami ya? Tak masalah, tidak perlu mengerti karena aku sendiri sebenarnya kurang mudeng juga."
Oh, apa yang dikatakan orang ini? Apa-apaan semua ini? Aku bahkan tak kenal diri sendiri dan sekarang harus berurusan dengan—apa ini? Memang sebaiknya aku diam saja di goa, tidur sampai tak sadar lagi.
"Jadi apa nama benda ini?" Dengan mulut-mulut tentakelnya dia menunjuk pepohonan yang ada di belakang kami.
"Pohon," jawabku singkat, tak menjelaskan lebih jauh karena ambiguitas ini membuatku malas bahkan untuk sekedar bicara.
"Apa itu pohon? Apa fungsinya?" Astaga kenapa dia bertanya.
"Emmm, banyak hal. Anggap saja benda multifungsi, kau faham multifungsi?" Dia suruh aku menjelaskan sementara pengetahuanku samar-samar, gila.
Dia menaikkan nada dengkur sebanyak dua kali. Kurasa dengkuran itu bukan sekedar hiasan dalam suaranya, tapi juga dipakai untuk berekspresi.
"Benda yang menenangkan. Aku cukup lama menunggumu, tapi tidak merasa bosan sembari melihat mereka." Dengkurannya menjadi lebih pelan sampai hampir tidak terdengar.
Dia kemudian menatapku kembali… kurasa? Suasana sunyi beberapa saat. Sangat sunyi sampai aku merasa bersalah. Apa dia menunggu aku untuk melanjutkan percakapan? “Kau sudah coba masuk ke hutan?”
“Hutan?”
“Ya, kumpulan pohon itu namanya hutan.”
“Cukup dari sini saja. Menenangkan dari jauh, ngeri jika didekati. Kalian bertiga sama, Shaweri, hutan, dan kau. Berpenampilan pilu sampai sampai jadi seram.”
Apa penampilanku sebegitu buruknya? Aku perlu cermin. Mana mungkin bentukku lebih buruk daripada dia.
“Hutan tidak seseram itu kok. Tidak ada apa-apa di dalam.”
“Tentu tidak ada. Semua anomali sudah kami binasakan.”
“Anomali?”
“Ya, makhluk yang ‘terlahir’ bersamamu. Lihat tempat ini, tandus… padahal tadinya dipenuhi dengan hutan.”
Kakiku refleks mundur, lubang di kepala makhluk ini tiba-tiba terasa begitu mengintimidasi. Seperti ada kengerian di balik kekosongan itu.
“Bagaimanapun juga, selamat atas kelahiranmu, kami menyebut tempat ini dimensi kekosongan. Kau akan hidup abadi, jadi segeralah cari tujuan, karena tanpa tujuan kau bakal gila. Kalau sampai gila kami harus memusnahkanmu juga.”
Tamat
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya


Komentar
Posting Komentar